PASURUAN – (java66news.com) Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Faizah 3 bersama SMP – MA IBS Nurul Faizah 3 Tutur, Pasuruan, sukses menggelar acara Haflah Akhirussanah sekaligus Prosesi Wisuda Tahfidz bagi santri kelas IX dan kelas XII. Acara yang berlangsung khidmat pada Selasa (16/06/2026) menjadi momen sakral bagi 28 santri tahfidz tingkat SMP dan 4 santri tahfidz tingkat MA yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an mereka.
Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Plt Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Pasuruan, KH. Achmad Shampton Masduki Mahfud, S.HI, M.Ag, didampingi Neng Roudhoh Quds Shampton.

Turut hadir pula Pengasuh Ponpes Nurul Faizah 3, Dr. H. Nur Yasin Shirotol Mutaqim, MA, Ketua Yayasan PP. Nurul Faizah, Dr. Hj. Mihmidaty Ya’coub, M.Pd.I, serta Pengasuh PP. Nurul Faizah 3, Dr. Hj. Zahrotun Ni’mah, S.HI, M.Pd. Kehadiran para orang tua atau wali santri menambah suasana haru dan bangga di lingkungan pesantren yang terletak di kawasan Tutur, Pasuruan ini.

Tausiyah Gus Shampton: Al-Qur’an Bukan Sekadar Pajangan
Dalam kesempatan tersebut, Plt Kepala Kankemenag Kabupaten Pasuruan yang akrab disapa Gus Shampton memberikan tausiyah yang sarat akan makna mendalam mengenai peran pesantren, akhlak, dan pentingnya menjaga kesucian Al-Qur’an.
Gus Shampton mengingatkan para jemaah tentang tanda-tanda akhir zaman terkait bagaimana manusia memperlakukan kitab suci.

“Salah satu tanda kiamat adalah ketika ada orang membaca Al-Qur’an namun tidak begitu diperhatikan. Termasuk di antaranya, jikalau Al-Qur’an dipakai sebatas pantes-pantesan atau sekadar formalitas saja,” tegas KH. Achmad Shampton dalam ceramahnya.
Beliau juga memaparkan betapa besarnya rasa sayang Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, bahkan kepedulian beliau yang begitu besar juga meluas hingga ke umat Nasrani. Oleh karena itu, pesantren harus hadir sebagai penguat pondasi akhlak demi keutuhan bangsa dan agama.
Hubungan Guru-Murid dan Frekuensi Orang Tua
Lebih lanjut, Gus Shampton menekankan pentingnya marwah dan pengaruh seorang pendidik. Menurutnya, setiap perkara yang dilakukan oleh seorang guru pasti akan membawa efek domino bagi para santrinya.
“Pondok pesantren itu perkara duniawi, yang bernilai akhirat adalah ta’lim muta’allim (proses belajar mengajar itu sendiri). Guru bertugas menjaga marwah murid karena guru mempunyai pengaruh yang sangat besar pada mereka,” lanjutnya.
Gus Shampton membagi manusia menjadi tiga golongan dalam menuntut ilmu, yaitu orang alim yang selalu muthola’ah (belajar atau membaca dengan cermat), orang alim yang konsisten menjaga belajarnya, dan orang yang mau belajar.
Kepada para wali santri, beliau berpesan agar orang tua mampu membangun frekuensi yang sama dengan anak dan guru di pesantren. Sinergi ini harus diperkuat dengan saling mendoakan guna melangitkan doa terbaik bagi masa depan anak.
Cari Pesantren yang Punya Sosok Kyai Wara’
Menutup tausiyahnya, Gus Shampton memberikan edukasi berharga bagi para orang tua dalam memilih lembaga pendidikan agama untuk anak-anak mereka. Beliau mengingatkan agar masyarakat tidak silau oleh fasilitas fisik semata.
“Orang tua jangan gopoh (terburu-buru) dan jangan bingung mencari pondok yang bangunannya mewah. Akan tetapi, lihat dan carilah pondok pesantren karena sosok kewiraian (sifat wara’ atau kehati-hatian dari dosa dan syubhat) dari gurunya atau kyainya,” pungkas beliau.
Acara prosesi wisuda tahfidz berjalan dengan lancar dan penuh air mata kebahagiaan dari para orang tua yang melihat putra-putrinya sukses memakai selempang wisuda tahfidz, siap menjadi generasi penjaga Al-Qur’an dan benteng akhlak di masyarakat. (J66/Red)
