Filosofi Ayam Mengeram, Abuyya M. Hasan Syaibah Ungkap Kunci Sukses Pendidikan Santri

Admin · 22 Agu 2026, 21:22 WIB · 31 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Filosofi Ayam Mengeram, Abuyya M. Hasan Syaibah Ungkap Kunci Sukses Pendidikan Santri

PASURUAN, java66news.com — Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, menegaskan pentingnya konsistensi (istikamah) dan sinergi antara guru, orang tua, serta santri dalam mencetak generasi didik yang berkualitas. Hal tersebut disampaikannya kepada java66news.com pada Sabtu (22/8/2026).

Abuyya M. Hasan Syaibah mengibaratkan proses mendidik santri seperti induk ayam yang sedang mengerami telur-telurnya. Induk ayam rela bertahan dalam berbagai kondisi cuaca, baik panas maupun hujan, serta mengorbankan waktu makan dan minum demi memastikan telurnya menetas menjadi anak ayam yang sehat. Menurutnya, perumpamaan tersebut berlaku bagi pengelola pesantren, madrasah, maupun majelis taklim.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Jika ingin menghasilkan santri yang sukses dengan kualitas terbaik, pengasuh dan guru tidak boleh sering meninggalkan anak didiknya. Istikamah ‘mengerami’ santri dalam kondisi apa pun adalah syarat utamanya,” ujar Abuyya.

Selain peran tenaga pendidik, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan pendidikan anak juga berada di tangan orang tua. Peran orang tua diuji melalui tirakat, doa, dan amalan khusus. Ia menjelaskan bahwa kerap kali santri tidak mengalami perkembangan signifikan karena kurangnya kesungguhan tirakat dari pihak orang tua.

Meski demikian, ikhtiar guru dan orang tua tidak akan optimal jika tidak dibarengi dengan kesadaran dari santri itu sendiri. Ketiadaan niat dan semangat belajar dari dalam diri santri dapat menghambat hasil akhir dari proses pendidikan.

Sebagai penutup, Abuyya M. Hasan Syaibah menyimpulkan bahwa kunci utama keberhasilan pendidikan anak terletak pada kolaborasi tiga elemen utama:

Pengasuh/Guru: Konsisten mengajar dan mendampingi.

Orang Tua: Aktif mendoakan dan melakukan tirakat.

Santri: Memiliki niat dan semangat kuat dalam menuntut ilmu.(SNA/Ebs)

31 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *