Ada Empat Unsur Terijabahnya Doa: Mulai dari Tempat Keutamaan Hingga Tingkat Ketulusan Hamba

Admin · 23 Jul 2026, 10:54 WIB · 44 dilihat · 3 menit baca
Bagikan:
Ada Empat Unsur Terijabahnya Doa: Mulai dari Tempat Keutamaan Hingga Tingkat Ketulusan Hamba

PASURUAN, java66news.com – Setiap mukmin tentu mendambakan agar setiap jengkal permohonan yang dipanjatkan ke hadirat Allah SWT dapat segera dikabulkan. Di dalam berbagai literatur spiritual serta intisari wejangan para ulama salaf, sebenarnya terdapat empat unsur utama yang menjadi pilar penting agar sebuah permohonan atau doa dikabulkan secara langsung.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Abuyya M. Hasan Syaibah selaku Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil Pasuruan Jawa Timur. Beliau memaparkan bahwa unsur pertama berkaitan erat dengan keutamaan tempat-tempat khusus. Allah SWT telah menganugerahkan derajat kemuliaan pada titik-titik bumi tertentu, seperti kawasan tanah suci Makkah dan Madinah, lokasi-lokasi bersejarah yang sempat disinggahi oleh para nabi dan rasul terdahulu, serta bangunan masjid. Melantunkan untaian harapan di area-area tersebut dipercaya memiliki bobot kedekatan yang jauh lebih kuat.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Selanjutnya, unsur kedua berpijak pada pemilihan waktu yang tepat. Menurut Abuyya M. Hasan Syaibah, momentum keemasan untuk mengetuk pintu langit di antaranya adalah sesaat setelah berkumandangnya adzan, interval berharga di antara waktu adzan dan iqamah, ataupun saat manusia sedang lelap terlelap di keheningan tengah malam. Waktu-waktu sunyi ini merupakan saat di mana rahmat diturunkan secara berlimpah.

Redaksi Kalimat dan Kedekatan Hamba

Adapun unsur ketiga bertumpu pada keaslian naskah atau teks dari doa itu sendiri. Sangat dianjurkan bagi umat untuk menggunakan doa-doa ma’tsuroh, yaitu rangkaian kalimat permohonan yang langsung dinukil dari kitab suci Al-Qur’an serta hadis shahih yang terbiasa dibaca oleh Rasulullah SAW maupun para ulama terdahulu.

Namun, unsur keempat dan yang dianggap paling menentukan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil tersebut adalah kualitas dari pribadi yang memohon. Manakala yang memohon adalah seorang hamba yang sangat dicintai oleh Penciptanya, maka segala keterbatasan ruang, waktu, bahkan keterbatasan bahasa pun tidak lagi menjadi penghalang. Ketulusan hati dan kebersihan jiwa sang hamba mampu menembus batasan formalitas redaksi.

Sebagai bukti nyata, sejarah mencatat ketulusan luar biasa dari seorang kekasih Allah, Mbah Dalhar Watu Congol. Beliau kerap memanjatkan untaian harapan dengan kalimat rakitan sendiri dalam bahasa Jawa yang sangat bersahaja namun sarat akan kepasrahan:

“Allohumma ubat ubet biso nyandang biso ngliwet, Allohumma ubat ubet mugo pinaringan selamet, Allohumma kitra kitri sugih bebek sugih meri, Allohumma kitra kitri sugih sapi sugih pari, amiin.”

Meskipun bukan merupakan doa berbahasa Arab ataupun kutipan langsung dari kitab, permohonan tersebut tetap menjadi sangat istimewa dan dikabulkan karena dilahirkan dari lisan seorang hamba yang maqamnya sudah dicintai oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak siapapun untuk terus mencoba berdoa, karena pada hakikatnya berdoa merupakan inti paling mendasar dari sebuah ibadah.(SNA/Red)

44 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →