PASURUAN java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M Hasan Syaibah, menyampaikan pesan spiritual mendalam mengenai hakikat ibadah sujud dan filosofi Doa Sapu Jagat pada Jumat (21/8/2026).
Dalam penjelasannya, Abuyya M Hasan Syaibah menekankan bahwa Doa Sapu Jagat (Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar) mengandung pesan kunci untuk menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya, doa tersebut mengajarkan manusia agar meraih kesuksesan seimbang: hidup mulia di dunia dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Pentingnya Sujud Hati
Selain pemaknaan doa, Abuyya juga menyoroti praktik sujud dalam salat. Secara fisik, sujud dilakukan dengan tujuh anggota badan—kening, dua telapak tangan, dua lutut, serta dua ujung telapak kaki—sebagai simbol penghambaan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Namun, ia mengingatkan bahwa sujud jasad saja belum cukup sempurna jika tidak diimbangi dengan sujudnya hati.
“Banyak orang rajin melaksanakan salat, tetapi kadang masih melakukan maksiat. Inilah akibat dari hati yang tidak ikut bersujud,” ungkap Abuyya.
Ia menjelaskan bahwa makna sujud yang sebenarnya adalah ketundukan total dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Sikap tersebut diwujudkan melalui kepasrahan, rasa syukur, serta husnudzon (prasangka baik) terhadap seluruh ketentuan takdir—baik maupun buruk. Ketetapan Allah merupakan garis terbaik yang membawa keselamatan bagi seorang hamba.
“Sujud hatilah yang harus menjadi prioritas dari semua ibadah. Orang yang sudah bersujud dengan hati, itulah hakikat hamba yang telah sampai (wushul) sebagaimana para nabi dan wali. Keteladanan spiritual seperti ini tampak nyata dalam pribadi Mbah Hamid Pasuruan,” pungkasnya.(SNA/Ebs)
