PASURUAN, java66news.com – Cinta sejati tidak pernah sekadar manis di bibir, melainkan menuntut loyalitas dan bukti nyata dalam tindakan. Hal mendasar inilah yang ditekankan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah, saat memberikan wejangan rohani rohani yang mendalam mengenai hakikat beragama.
Kepada java66news.com, Abuyya M. Hasan Syaibah mengingatkan agar umat Muslim tidak terjebak dalam apa yang kerap disebut sebagai “Islam KTP”—sebuah kondisi di mana seseorang menyandang status Islam sebagai label belaka, namun enggan melaksanakan ajaran dan syariatnya secara kafah.
“Cinta itu butuh loyalitas dan bukti. Akan dikatakan ‘cinta lipstik’ jika hanya di bibir, lain di hati,” tegas Abuyya.
Menurutnya, kalimat syahadat yang diikrarkan oleh seorang Muslim—kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya—bukanlah kalimat tanpa makna. Syahadat adalah bukti cinta yang diucapkan dari hati melalui lisan, yang membawa konsekuensi spiritual dan lahiriah yang sangat tinggi.
“Dengan bersyahadat, berarti kita rela menyerahkan jiwa dan raga untuk mau mengikuti, menuruti, dan melaksanakan apa yang menjadi perintah serta larangan-Nya. Kita juga harus siap menjalankan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW,” lanjutnya.
Beliau kemudian memberikan perumpamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni kehidupan rumah tangga. Beragama, menurut Abuyya, selayaknya hubungan sepasang suami istri (pasutri). Hubungan yang awet dan harmonis tidak hanya dibangun di atas cinta terhadap kelebihan pasangan, melainkan juga kesiapan untuk menerima segala kekurangannya.
Begitu pula dalam beragama. Seorang hamba harus siap menyanggah suka dan duka, menjunjung tinggi perintah, serta menjauhi larangan sebagai ungkapan cinta dan tanda bukti dari apa yang telah diikrarkannya.
Di akhir pesannya, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah ini mengajak seluruh umat untuk kembali berefleksi dan mengoreksi diri masing-masing.
“Ingat, apa yang terucap semua ada dampaknya. Begitupun bersyahadat, ada konsekuensinya. Pertanyaannya, sejauh mana konsekuensi kita dalam beragama? Ikrar cinta dengan bersyahadat, sudahkah dibuktikan? Atau, masihkah agama hanya menjadi label belaka?” pungkas Abuyya menutup nasihatnya. (SNA/Red)
