PASURUAN, (java66news.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pesan spiritual yang mendalam mengenai hakikat kehidupan, takdir, dan pentingnya introspeksi diri (muhasabah).
Kepada redaksi java66news.com pada Jumat (5/6/2026), Abuyya M. Hasan Syaibah menuturkan bahwa setiap kejadian yang menimpa kehidupan seorang manusia pada hakikatnya merupakan kilas balik atau cerminan dari apa yang telah ia perbuat sebelumnya.
“Apa yang terjadi dan menimpa pada diri seorang itu adalah kilas balik dari apa yang dilakukannya. Apa yang ditabur, itulah yang dituai,” tutur Abuyya.
Kedekatan dengan Allah Tergantung Ingatan Hamba
Lebih lanjut, Beliau menjelaskan bahwa kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT sangat bergantung pada intensitas atau “volume” hamba tersebut dalam mengingat Penciptanya. Merujuk pada potongan ayat Al-Qur’an, “Fadzkuruni adzkurkum” (Maka ingatlah segenap kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu), Abuyya menegaskan hukum timbal balik spiritual ini.
“Jika kau dekat, maka Allah akan mendekat, pun sebaliknya. Simpelnya, jika kau tak pernah berpaling dari-Ku, pasti Aku selalu bersamamu. Begitulah kiasannya, Allah itu terserah hambanya,” jelasnya.
Kekuatan Berbaik Sangka (Husnudzon) Terhadap Takdir
Abuyya M. Hasan Syaibah juga menekankan pentingnya menjaga prasangka baik (husnudzon) kepada Allah SWT, terutama saat menerima takdir yang dirasa berat atau berseberangan dengan keinginan hati nurani.
Menurutnya, ketetapan yang awalnya terlihat buruk di mata manusia bisa berubah menjadi kebaikan karena Allah sangat menghargai prasangka baik hamba-Nya.
“Allah itu Maha Rahman, Maha Suci dari sifat pendendam atau buruk. Kasih sayang-Nya tak terbatas. Jika hal buruk menimpa, dipastikan itu dari sikap kita sendiri,” tambahnya.
Ajakan untuk Berintropeksi Diri
Di akhir tuturannya, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah ini mengajak masyarakat untuk lebih banyak berefleksi dan mawas diri ketika diuji dengan situasi yang tidak menyenangkan, ketimbang sibuk mencari kesalahan orang lain.
Lakukan Refleksi: Cari tahu di titik mana tindakan kita yang membuat Allah SWT tidak berkenan hingga hal tak baik menimpa.
Allah Tidak Pernah Dhalim: Yakinlah bahwa Allah sedikit pun tidak pernah berbuat dhalim kepada hamba-Nya. Jika kita menanam kebaikan akan terbalas kebaikan, begitu pula sebaliknya.
Koreksi Diri: Belajarlah melihat kelemahan sendiri sebelum menelisik kelemahan orang lain, agar diri kita terlebih dahulu yang terkoreksi.
(J66/Red)
