Rebo Wekasan dan Anjuran Amalan, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil: Bentuk Ikhtiar dan Ittiba’ Ulama

Admin · 12 Agu 2026, 08:02 WIB · 37 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Rebo Wekasan dan Anjuran Amalan, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil: Bentuk Ikhtiar dan Ittiba’ Ulama

PASURUAN, java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, menyampaikan pandangannya mengenai hikmah penciptaan manusia serta hakikat amalan di malam Rebo Wekasan (Rabu terakhir bulan Shafar).

Abuyya M. Hasan Syaibah menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelemahan dan keistimewaannya sebagai bagian dari sunnatullah. Ketetapan tersebut ditujukan agar roda kehidupan umat manusia dapat berjalan secara harmonis dan saling melengkapi, seperti halnya adanya garis kehidupan kaya dan miskin.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya yang memiliki kelebihan pandangan hati (kasyaf) hingga dapat mengetahui isyarat takdir atas izin Allah SWT, sebagaimana Mbah Hamid Pasuruan yang dikenal sebagai wali kasyaf,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah kepada java66news.com, Rabu (12/8/2026).

Terkait tradisi dan anjuran amalan pada malam Rebo Wekasan, beliau menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah tersebut lahir dari hasil ijtihad para ulama kasyaf. Meskipun ritual doa khusus Rebo Wekasan tidak tercantum secara teks eksplisit dalam Al-Qur’an maupun Hadits, para ulama memandangnya sebagai langkah ikhtiar spiritual dan penangkal bahaya.

Berdasarkan mata batin (kasyaf) para ulama, pada malam Rabu terakhir di bulan Shafar tersebut Allah SWT menurunkan berbagai jenis penyakit dan cobaan ke bumi. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidak melalaikan doa serta memperbanyak sedekah sebagai bentuk antisipasi spiritual.

“Di malam itu, hendaknya kita memperbanyak doa dan sedekah sebagai penangkal (pembenteng diri). Salah satu doa yang dapat dilafalkan adalah:

اللهم ياكافي البلاء اكفنا البلاء قبل نزوله من السماء ياالله

(Allahumma yaa kaafiyal balaa’ikfinaal balaa’a qabla nuzuulihi minas-samaa’i yaa Allah)

Alangkah baiknya jika kita senantiasa ber-ittiba’ (mengikuti) pada dawuh, saran, serta apa yang dianjurkan dan dilakukan oleh para ulama,” pungkas beliau.(SNA/Red)

37 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →