Abuyya M. Hasan Syaibah: Pahami Hakikat Beragama dan Keterbatasan Akal di Hadapan Ilmu Ilahi

Admin · 8 Jul 2026, 20:57 WIB · 36 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah: Pahami Hakikat Beragama dan Keterbatasan Akal di Hadapan Ilmu Ilahi

PASURUAN, java66news.com — Manusia sering kali merasa digdaya dengan kemajuan teknologi yang diciptakannya. Namun, jika direnungkan lebih dalam, seluruh kekayaan alam di bumi beserta isinya tidak akan pernah habis, bahkan hingga semesta ini berakhir.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah. Kepada redaksi media online java66news.com pada Minggu (5/7/2026), beliau membagikan untaian hikmah mendalam mengenai hakikat berserah diri (Islam) yang sesungguhnya.

Abuyya M. Hasan Syaibah menuturkan bahwa samudra dengan segala isinya yang tak pernah habis walau dikeruk manusia mulai zaman Nabi Adam hingga kini, bahkan sampai semesta ini berakhir, masih menyisakan banyak hal. Apa yang telah diambil oleh manusia bahkan tidak mengurangi kekayaan ciptaan Allah Swt. walau secuil pun. Sungguh, Allah Mahakaya.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Belum lagi daratan dan udaranya dengan segala isi, macam-macam energi, serta hasil alamnya. Walaupun menggunakan alat secanggih apa pun, manusia tidak akan bisa mengeruk, apalagi menghabiskan isinya. Keterbatasan alat yang diciptakan manusia membuatnya tidak akan mampu menjangkau semua isi alam ini,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah.

Al-Qur’an dan Keterbatasan Logika Manusia

Lebih lanjut, Abuyya menjelaskan bahwa analogi samudra tersebut juga berlaku mutlak dalam memahami kitab suci Al-Qur’an. Jika dalam kehidupan sehari-hari terdapat ketidaksesuaian antara ayat Al-Qur’an dengan akal atau nafsu manusia, maka sudut pandang manusialah yang harus dibenahi.

Kepada java66news.com, Abuyya M. Hasan Syaibah menekankan tiga poin penting dalam beragama:

Bukan Al-Qur’an yang Salah: Jika ada ayat yang dirasa tidak sejalan dengan logika, itu bukan Al-Qur’annya yang salah, melainkan karena keterbatasan otak manusia dalam menganalisis sehingga belum mampu menafsirkannya.

Ranah Rasional dan Supra-Rasional: Di dalam agama, ada sesuatu yang memang bisa dinalar oleh akal, dan ada pula yang tidak bisa dinalar.

Akal yang Sehat: Akal yang sehat pasti tidak akan memaksakan segala sesuatu yang berada di luar batas kemampuannya untuk harus masuk akal.

Hakikat Islam yang Hakiki

Oleh karena itu, Abuyya mengajak umat Islam untuk bersikap realistis dalam menerima kekurangan diri dengan berpasrah secara sepenuhnya.

Menurut beliau, definisi Islam yang hakiki adalah berpasrah atas apa yang dibawa oleh Rasulullah saw., baik perintah maupun larangan tersebut masuk akal ataupun tidak bagi manusia.

“Bentuk kepasrahan tersebut adalah menerima ketentuan dengan keikhlasan serta rida atas segala apa yang ditimpakan. Itulah hakikat beragama yang paling sahih (afshoh),” pungkas Abuyya M. Hasan Syaibah menutup tutur hikmahnya. (J66/Red)

36 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →