PASURUAN – Tokoh agama terkemuka, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pandangan mendalam mengenai esensi toleransi dan keadilan hukum dalam Islam. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan pluralisme, namun tetap kokoh tanpa kompromi dalam hal penegakan hukum syariat, terutama menyangkut kemaksiatan.
Hal tersebut disampaikan dalam sebuah pesan edukasi yang diterima redaksi pada Selasa (9/6/2026).
Islam Menghargai Kemajemukan dan Akal Sehat
Abuyya M. Hasan Syaibah menjelaskan bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi. Agama ini menghormati perbedaan dalam kemajemukan dan memanusiakan manusia tanpa memandang kasta ataupun status sosial.
“Islam menyamaratakan kedudukan dan status sosial, serta tidak memaksakan kehendak. Dakwah Islam selalu mengedepankan akal sehat dan ilmu sebagai pijakan utama,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan bahwa ukuran kemuliaan, kehormatan, serta derajat seorang manusia di dunia dan akhirat murni berbarometer pada tingkat ketaakwaannya, bukan pada aspek materi atau keturunan.
Ketegasan Hukum Syariat: Tidak Ada Hak Istimewa Keturunan
Kendati sangat toleran dalam urusan sosial-kemasyarakatan, Abuyya menekankan bahwa Islam sangat tegas dan konsisten dalam menjalankan syariatnya. Menurutnya, tidak ada istilah toleransi atau dispensasi bagi pelaku kemaksiatan, terlebih jika ada pihak yang mencoba berlindung di balik status keturunan atau dzurriyah Rasulullah SAW.
“Bohong sekali jika ada yang mengaku dzurriyah Rasul lalu merasa bebas melakukan apa yang disuka karena alasan mengalir darah mulia dari datuk-datuknya,” tegas Abuyya.
Beliau kemudian mengutip kisah teladan dari Rasulullah SAW ketika memberikan peringatan keras kepada putri tercintanya, Fatimah Az-Zahra. Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa sekiranya Fatimah mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya, meskipun status beliau adalah seorang ayah sekaligus Rasul yang diutus Allah.
Ajakan Bersyariat dengan Akal Sehat
Menutup pesannya, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak seluruh umat Muslim untuk selalu menggunakan akal sehat yang berbasis ilmu dalam beragama, bukan bersandar pada khurafat atau keyakinan yang tidak memiliki dasar hukum yang sahih.
“Begitu jelas jika urusan hukum tidak ada toleransi. Bersyariatlah dengan akal sehat, bukan dengan khurafat, agar kita tidak sesat jalan,” pungkasnya. (J66/Red)
