PASURUAN – (java66news.com) Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pandangan kritis sekaligus mendalam mengenai esensi kepemimpinan di Indonesia. Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual maupun kemampuan tata negara yang mumpuni, melainkan dari landasan moral dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Abuyya menegaskan bahwa ketaqwaan dan kedekatan kepada Sang Pencipta merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin, terlebih bagi mereka yang menduduki kasta tertinggi di pemerintahan.
> “Sepandai, selihai, segenius apa pun ilmu ketatanegaraannya, jika tidak didasari dengan ketaqwaan, maka seolah tiada arti. Bagaimana bisa menyapu dengan bersih jika sapunya yang kotor?” tegas Abuyya M. Hasan Syaibah.
>
Ia juga mengutip potongan ayat suci Al-Qur’an (Surah Al-Baqarah: 44), “Atamurunan nasi bil birri wa tansawna anfusakum” (Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri), sebagai pengingat keras bagi para pemangku kebijakan agar tidak terjebak dalam kemunafikan politik.
Soroti Ironi Negeri Kaya, Rakyat Tercekik
Abuyya M. Hasan Syaibah menyayangkan kondisi bangsa saat ini. Ia menilai ada ironi besar di mana Indonesia sebagai negara yang kaya raya bak surga, namun rakyatnya justru hidup dalam kesulitan ekonomi yang menghimpit.
“Sangatlah mustahil akan mencapai negara adil dan makmur jika pemimpinnya—baik tokoh legislatif, eksekutif, maupun yudikatifnya—bobrok dan jauh dari rasa takut kepada Allah SWT,” lanjutnya.
Lebih lanjut, beliau menyoroti beberapa persoalan riil yang dihadapi masyarakat:
Beban Hidup Meningkat: Rakyat merasa tercekik karena tidak kuat membeli kebutuhan pokok (sembako) dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Paradoks Energi: Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengekspor minyak, namun masyarakatnya justru kesulitan dan tidak kuat membelinya.
Korupsi yang Masif: Praktik korupsi yang masif dan terstruktur di semua lini dituding menjadi penyebab utama mengapa rakyat semakin miskin di atas tanah yang kaya.
Seruan untuk Berdiri di Atas Kaki Sendiri (BERDIKARI)
Di akhir pernyataannya, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah ini memberikan peringatan keras kepada para oknum yang memanfaatkan momentum politik demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat. Bagi Abuyya, tindakan tersebut sangat naif dan berdosa besar.
Jika Indonesia ingin kembali pada cita-cita luhur para pendiri bangsa untuk menjadi negara yang BERDIKARI (Berdiri di Atas Kaki Sendiri), maka perubahan harus dimulai dari moralitas para pemimpinnya.
“Jangan berharap kepada siapa pun negeri ini sesuai dengan cita pendiri bangsanya yang ingin BERDIKARI, jika pemimpinnya tidak takut dengan Penciptanya,” pungkas Abuyya menutup pesan moralnya. (J66/Red)
