PASURUAN, (java66news.com) – Fenomena sosial mengenai representasi diri dan validasi publik kian marak diperbincangkan di era modern. Salah satu analogi menarik yang belakangan ini berkembang di masyarakat menyoroti bagaimana individu menyikapi kekurangan diri, yang kemudian dikorelasikan dengan maraknya peredaran barang imitasi serta perilaku kepalsuan status sosial (flexing).
Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah AL-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M. Hasan Syaibah, menjabarkan sebuah ilustrasi sederhana mengenai fenomena ini pada Senin (1/6/2026). Menurut beliau, penggunaan sepatu atau sandal berhak tinggi (high heels) oleh seseorang yang berbadan relatif pendek sering kali bertujuan praktis untuk menutupi kelemahan fisik agar terlihat lebih tinggi di hadapan publik. Sebaliknya, bagi mereka yang secara genetis sudah bertubuh tinggi, manipulasi visual seperti itu tidak lagi diperlukan karena keaslian fisik mereka sudah terbukti tanpa memerlukan alat bantu atau rekayasa penampilan.
Refleksi Karakter: Antara Otentisitas dan Kesemuan
“Produk asli biasanya tidak membutuhkan banyak iklan promosi yang berlebihan, karena dari tampilan dan kualitasnya, keaslian itu sudah langsung terpancar dan dipercaya. Berbeda dengan barang imitasi yang membutuhkan narasi besar, iklan masif, dan promosi agresif hanya demi meyakinkan publik agar percaya pada keunggulan semu yang ditawarkan.”
Dalam konteks sosial dan perilaku manusia, prinsip serupa berlaku kuat. Barang palsu atau replika di era sekarang dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, sehingga sering kali mengecoh masyarakat awam. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian, penalaran yang kritis, serta ilmu pengetahuan yang memadai bagi seseorang untuk dapat membedakan mana yang benar-benar orisinal dan mana yang sekadar tiruan. Hanya orang-orang yang berilmu dan telitilah yang mampu mengoreksi serta mengetahui nilai keaslian tersebut.
Lebih jauh lagi, Abuyya M. Hasan Syaibah merefleksikan realitas sosiologis ini pada karakter manusia dalam menyikapi status sosial. Fenomena individu yang secara agresif dan menggebu-gebu memproklamirkan status mereka di ruang publik—bahkan tidak jarang hingga melampaui batas wajar dengan bersumpah demi meyakinkan orang lain—disinyalir menjadi indikator kuat adanya kepalsuan identitas.
Dalam pandangan luhur pesantren, karakter manusia yang memiliki nilai otentisitas, integritas, dan kemuliaan sejati (manusia ‘asli’) justru cenderung tampil dengan penuh keanggunan (elegan), lebih banyak menahan diri, bersikap tenang, serta tidak tampak menonjol-nonjolkan diri demi mendapatkan pengakuan semu dari lingkungan sekitarnya.(Red)
