Abuyya M. Hasan Syaibah: Menjadi Kaya Itu Boleh, yang Dilarang Adalah Cinta Dunia

Admin · 1 Agu 2026, 17:52 WIB · 67 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah: Menjadi Kaya Itu Boleh, yang Dilarang Adalah Cinta Dunia

PASURUAN, java66news.com – Pandangan keliru mengenai konsep kekayaan dan zuhud sering kali membuat sebagian umat Muslim bersikap apatis terhadap urusan duniawi. Banyak yang mengira bahwa untuk menjadi hamba yang saleh, seseorang harus hidup dalam kemiskinan atau berpenampilan compang-camping.

Meluruskan pemahaman tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah memberikan pesan mendalam saat diwawancarai oleh java66news.com pada Sabtu (1/8/2026).

Dunia Bisa Menjadi Ladang Akhirat

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Abuyya M. Hasan Syaibah menyayangkan adanya asumsi di masyarakat yang menganggap umat Islam tidak boleh kaya hanya karena melihat banyaknya orang kaya yang menyalahgunakan hartanya. Menurutnya, pandangan keliru ini justru berbahaya karena dapat membunuh semangat seseorang untuk meraih kesuksesan di dunia.

“Urusan dunia itu, jika niatnya ditata dengan baik, justru akan menjadi ladang akhirat,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah kepada java66news.com.

Beliau menegaskan bahwa titik permasalahannya bukan pada jumlah harta yang dimiliki, melainkan pada hati manusia. Hal yang mutlak tidak diperbolehkan adalah Cinta Dunia (wahn).

“Cinta dunia itu bisa menghinoptis diri seseorang hingga melupakan urusan akhirat dan meninggalkan kewajiban. Logikanya seperti dua sejoli yang sedang kasmaran; membutakan mata hatinya hingga tak bisa mendengar nasehat, dan semua dianggap batu,” jelasnya menganalogikan.

Meluruskan Makna Zuhud yang Keliru

Lebih lanjut, Abuyya juga menyoroti salah kaprah mengenai konsep zuhud. Selama ini, sebagian orang mengira zuhud berarti anti-dunia, sehingga mereka memilih tampil seadanya, bahkan terkesan compang-camping agar terlihat religius.

“Ini juga pandangan yang salah. Silakan menjadi konglomerat, yang penting tidak cinta dunia,” tegas Abuyya.

Beliau kemudian memberikan dua teladan besar mengenai bagaimana menyikapi harta:

Nabi Sulaiman AS: Seorang nabi dan raja yang kekayaannya tidak tertandingi hingga kini, namun hatinya tetap rendah hati dan sama sekali tidak diperbudak oleh harta dunianya.

Mbah Hamid Pasuruan: Tokoh ulama besar yang sangat zuhud, namun penampilannya selalu necis, mboys, dan perlente. Meskipun tampil rapi dan berkecukupan, hati beliau sedikit pun tidak terikat pada gemerlap dunia.

Di akhir penjelasannya, Abuyya M. Hasan Syaibah merangkum bahwa hakikat zuhud yang sebenarnya adalah mengambil kepentingan dunia sebatas yang diperlukan saja, sedangkan selebihnya digunakan sepenuhnya untuk kepentingan akhirat.(SNA/Red)

67 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →