Filosofi ‘Bulus’ Walisongo: Abuyya M. Hasan Syaibah Ingatkan Pentingnya Menjaga Keikhlasan dari Penyakit Riya

Admin · 20 Jun 2026, 10:25 WIB · 71 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Filosofi ‘Bulus’ Walisongo: Abuyya M. Hasan Syaibah Ingatkan Pentingnya Menjaga Keikhlasan dari Penyakit Riya

PASURUAN, (java66news.com) – Istilah “akal bulus” selama ini kerap dikonotasikan secara negatif di tengah masyarakat dengan arti merekayasa, licik, intrik, maupun memanipulasi akal demi keuntungan tertentu. Namun, sebuah pandangan mendalam dan meluruskan disampaikan oleh tokoh agama asal Pasuruan terkait simbolisme hewan tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah AL-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, kepada redaksi media online java66news.com pada Sabtu (20/6/2026), menuturkan bahwa keberadaan simbol atau gambar bulus yang pernah ada di tempat Imam Masjid Kudus sebenarnya membawa filosofi luhur dari dakwah Walisongo.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Menurut hemat kami, maknanya tidak demikian negatif. Keberadaan gambar bulus di tempat Imam Masjid Kudus adalah sebuah filosofi mendalam dari Walisongo dalam arti: jadilah seperti bulus dalam hal keikhlasan di setiap amal ibadah,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah.

Lebih lanjut, Abuyya menjelaskan karakteristik unik dari hewan bulus yang menjadi dasar filosofi tersebut. Bulus dikenal sebagai hewan yang pemalu; ia tidak menampakkan diri pada siang hari. Namun, ketika malam hari tiba dan suasana telah sepi, barulah hewan tersebut keluar untuk beraktivitas.

“Maksudnya, dalam hal kebaikan atau amal ibadah, janganlah diperlihatkan atau dipamer-pamerkan kepada orang lain. Kita khawatir akan munculnya penyakit Riya serta ketidakkuatan hati hingga timbul keinginan untuk dipuji selain oleh Allah SWT. Hal ini semata-mata agar keikhlasan ibadah kita tetap terjaga,” jelasnya menekankan bahwa simbol tersebut mengandung ajaran moral yang menakjubkan, bukan sebuah konotasi negatif.

Beliau juga menyoroti fenomena sosial keagamaan seiring dengan kemajuan zaman dan derasnya arus digitalisasi saat ini. Menurutnya, hampir di setiap lini kehidupan saat ini, aktivitas ibadah seakan-akan dianggap tidak sah atau tidak diterima jika tanpa diunggah ke media sosial.

“Maka dari itu, sangat tepat sekali jika Walisongo terdahulu mengingatkan kita semua melalui simbol ‘BULUS’. Berhati-hatilah dalam beribadah, jangan sampai nilai ibadah kita di hadapan Allah menjadi fatamorgana belaka gara-gara unggahan digital yang tidak didasari oleh ilmu dan keikhlasan. Alangkah ruginya dan sangat disayangkan (eman sekali) jika amal yang sudah kita lakukan dengan bersusah payah, justru berakhir tanpa pahala hanya karena penyakit RIYA’,” pungkas Abuyya M. Hasan Syaibah menutup keterangannya. (J66/Red)

71 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →