Abuyya M. Hasan Syaibah: Bahaya Penyakit Hati, Merusak Fitrah Manusia hingga Tak Lagi Dihargai

Admin · 18 Jun 2026, 10:33 WIB · 40 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah: Bahaya Penyakit Hati, Merusak Fitrah Manusia hingga Tak Lagi Dihargai

PASURUAN – (java66news.com) Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan wejangan mendalam mengenai bahaya penyakit hati yang dapat merusak harkat dan martabat seorang manusia. Pesan penyejuk iman tersebut disampaikan langsung kepada redaksi java66news.com saat ditemui di kompleks Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada Kamis (18/6/2026).

Abuyya M. Hasan Syaibah menegaskan bahwa sifat-sifat buruk seperti benci, hasud (dengki), dan takabur (sombong) adalah penyakit kronis yang harus segera disingkirkan dari dalam hati. Menurut beliau, jika sifat-sifat negatif tersebut terus dipelihara, lambat laun seseorang akan kehilangan kehormatan dan tidak lagi dihargai oleh sesamanya.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Jika terselip dalam hatimu rasa benci, hasud, dan takabur yang tidak disingkirkan, apalagi dipelihara, dipastikan dirimu tidak lagi dihargai dan tidak mempunyai kehormatan. Wujudnya saja berupa manusia, tetapi hakikatnya hewan,” ujar Abuyya dengan tegas saat menjelaskan isi pesan yang termuat dalam dokumen internal santri tepercaya (seperti yang terlihat pada image.png).

Beliau mengibaratkan penyakit hati tersebut layaknya virus kanker ganas yang dapat meracuni fitrah suci manusia. Dampak paling fatal adalah hilangnya rasa empati, sehingga manusia tersebut tidak lagi dimanusiakan oleh lingkungan sekitarnya.

Lebih lanjut, Abuyya M. Hasan Syaibah memaparkan bahwa akhlak paling agung bagi seorang manusia adalah kemampuan untuk mencintai dan menghargai orang lain. Sifat tersebut merupakan bentuk tawadu (rendah hati) tingkat tinggi yang akan mendatangkan penghormatan sejati.

Sebaliknya, seseorang yang memelihara penyakit hati digambarkan seperti mayat hidup. Secara fisik mereka bernyawa, namun hatinya telah mati. Keberadaannya pun tidak memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Inti hidup adalah menebar cinta dan memberikan banyak manfaat. Setinggi apa pun ilmu seseorang, jika terjangkit virus hati, maka ilmunya tidak akan berefek. Seharusnya dengan berilmu, manusia bisa berubah menjadi semakin dekat dan bertakwa kepada Allah, bukan malah memelihara virus negatif,” pungkasnya menutup perbincangan. (SNA/J66)

40 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →