Tradisi Bubur Nusantara: Simbol Doa, Sedekah, dan Silaturahmi yang Melintasi Jawa dan Banua

Admin · 5 Agu 2026, 20:33 WIB · 40 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Tradisi Bubur Nusantara: Simbol Doa, Sedekah, dan Silaturahmi yang Melintasi Jawa dan Banua

BANJARMASIN – java66news.com Tradisi kuliner Nusantara kerap menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan filosofis, mempererat silaturahmi, serta memanjatkan doa. Hal tersebut terlihat jelas pada tradisi membagikan jenang atau bubur saat memasuki bulan Muharram (Suro) dan Sapar dalam kalender Hijriah serta Jawa.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Hal tersebut disampaikan oleh narasumber, Trining Puji Astutik, S.Si., S.Pd., M.Pd., saat mengisi acara ragam budaya Sambung Roso di sebuah stasiun radio nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (5/8/2026). Ia menjelaskan bahwa saat memasuki 1 Muharram atau Satu Suro, masyarakat Jawa rutin menyajikan Jenang Suro. Olahan ini berupa bubur beras gurih bersantan yang dilengkapi dengan pelengkap (ubarampe) seperti telur iris, kacang goreng, ikan asin kecil, dan rempah-rempah. Jenang Suro dihadirkan sebagai simbol rasa syukur atas pergantian tahun baru Islam sekaligus doa memohon keselamatan dan kelancaran rezeki.

Masih di bulan yang sama, tepatnya pada 10 Muharram (Hari Asyura), warga Banua (Urang Banjar) menggelar tradisi memasak Bubur Asyura. Menurut Trining Puji Astutik, tradisi ini berakar dari kisah Nabi Nuh AS saat kapalnya berlabuh pascabanjir besar, ketika seluruh sisa bahan makanan dikumpulkan dan dimasak bersama. Keunikan khas Banjar terletak pada penggunaan 41 jenis bahan—mulai dari beras, aneka kacang-kacangan, sayuran seperti kangkung, jagung, dan labu kuning, hingga rempah-rempah. Proses pembuatannya mengedepankan budaya gotong royong (bapikatan) di halaman masjid atau langgar dengan memasak menggunakan kawah besar. Tradisi ini tidak sekadar menyajikan hidangan, tetapi juga memperkuat nilai badamai dan badangsanakan antarwarga.

Sementara itu, pada bulan berikutnya, yakni bulan Sapar, masyarakat tradisional mengolah Jenang Sapar. Berbeda dengan Jenang Suro yang gurih, Jenang Sapar cenderung bercita rasa manis dengan paduan tepung beras atau ketan, santan, dan gula merah. Hidangan ini kerap disajikan dengan bulatan ketan (candil) atau kombinasi warna merah-putih. Pembagian Jenang Sapar berfungsi sebagai bentuk sedekah penolak bala dan ungkapan syukur agar terhindar dari marabahaya. Teksturnya yang lengket melambangkan harapan agar tali silaturahmi antarwarga semakin erat.

Di akhir siaran radio tersebut, Trining Puji Astutik menegaskan bahwa baik Jenang Suro, Bubur Asyura khas Banua, maupun Jenang Sapar memiliki benang merah yang serupa, yaitu mengusung nilai sedekah, silaturahmi, dan doa kebajikan. Melalui semangkuk bubur, para leluhur merawat kebersamaan masyarakat dan mengajarkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Tradisi luhur ini diharapkan dapat terus dilestarikan, baik di Banua maupun di Tanah Jawa. (Ning/Red)

40 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →