PASURUAN java66news.com – Manusia sejatinya diciptakan sebagai makhluk paling mulia dan terhormat di antara ciptakan lainnya. Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari, sebuah ironi sering kali terjadi menjelang fajar, ketika gelar kemuliaan tersebut seolah diuji oleh rutinitas pagi yang sederhana: bangun subuh.
Ujian Keimanan di Keheningan Fajar
Secara filosofis, kemuliaan manusia sering kali terusik oleh sikap dan kelalaian sendiri. Saat mata masih tertutup rapat di balik selimut, ayam jantan justru telah terbangun lebih awal. Hewan berkaki dua ini berkokok lantang memecah kesunyian malam, seolah sedang berzikir dan menyongsong tahajud, mendahului manusia yang masih terlelap dalam mimpi indah.
Fenomena ini memicu pertanyaan reflektif: Sudah berapa kali dalam hidup ini, waktu bangun kita justru kedahuluan oleh ayam jantan, atau bahkan oleh terbitnya matahari?
Bagi seorang muslim, ibadah subuh merupakan salah satu momentum krusial yang menguji kadar keimanan seseorang. Bangun di keheningan fajar untuk menunaikan salat Subuh bukanlah perkara mudah; ia membutuhkan komitmen spiritual yang kuat untuk melawan rasa kantuk dan kemalasan.
Pesan Moral Abuyya M. Hasan Syaibah Senin (3/8/2026)
Menanggapi fenomena spiritual ini, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah, turut memberikan wejangan mendalam bagi umat. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah di awal hari sebagai cerminan kualitas iman yang sesungguhnya.
Dalam sebuah kalam hikmah yang kerap menjadi tolok ukur sosial sekaligus spiritual di tengah masyarakat, disebutkan:
“Jika kamu ingin melihat orang Islam, maka lihatlah mereka saat melaksanakan salat hari raya. Namun, jika kamu ingin melihat orang yang benar-benar beriman, maka lihatlah jemaah yang hadir saat salat Subuh di masjid atau mushola.”
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa kuantitas umat dapat terlihat jelas saat momentum besar seperti Hari Raya Idulfitri atau Iduladha. Sebaliknya, kualitas dan keteguhan seorang hamba justru diuji pada konsistensinya memakmurkan rumah ibadah pada waktu-waktu tersulit, seperti di kala Subuh.
Melalui pesan religius ini, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak masyarakat untuk menjaga kehormatan dan status sebagai makhluk mulia. Langkah nyata tersebut dapat dimulai dari hal kecil yang konsisten: bangun lebih awal, mendahului kokok ayam, dan melangkahkan kaki menuju tempat ibadah demi menjaga kemuliaan yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.(SNA/Red)
