PASURUAN java66news.com – Ujung dari ibadah adalah keikhlasan. Namun, pahala ibadah tersebut bisa menjadi tidak berarti (nihil) jika keikhlasan tidak terkondisi dengan baik melalui penjagaan hati yang konsisten. Dari hati yang bersihlah, akan terpancar segala ekspresi baik maupun buruknya ucapan, perbuatan, serta cara berpikir seseorang.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, saat diwawancarai oleh java66news.com pada Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Abuyya M. Hasan Syaibah juga mengutip pesan berharga dari seorang Wali Allah (kekasih Allah), Mbah Hamid Pasuruan, kepada para santrinya. Mbah Hamid sering berpesan untuk selalu berbuat baik kepada orang yang telah berbuat jahat, sebagaimana ungkapan:
أحسن الى من اساءاليك
“Perbaiki orang yang berbuat jelek kepadamu.”
“Inilah hal paling sulit dilakukan. Mestinya secara akal dan nafsu membalas adalah hal yang wajar. Tetapi bagi orang yang baik hatinya, hal itu tidak dilakukan,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah.
Beliau menambahkan bahwa mengalah bukan berarti kalah. Sikap mulia tersebut dilakukan demi loyalitas dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, dengan cara meniru apa yang pernah beliau lakukan, yaitu tidak membalas kejelekan orang lain.
Sepanjang sejarah kehidupan Rasulullah SAW, tidak pernah ada kisah yang menceritakan beliau membalas kejelekan orang lain. Padahal, sejak lahir beliau selalu berada dalam ancaman dan kedzaliman. Keteguhan hati itulah yang menjadikan beliau sebagai nabi terhebat.
“Itu semua karena hatinya terbuat dari permata yang selalu bersinar dan tak pernah redup sepanjang masa. Demikian dengan kehebatan dirimu, akan semakin hebat dan bersinar jika hatimu istiqomah dalam kesucian,” pungkas Abuyya M. Hasan Syaibah menutup nasihatnya.(SNA/Red)
