PASURUAN java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, menyampaikan pesan mendalam mengenai hakikat kehidupan dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Beliau mengingatkan bahwa kematian merupakan suatu kepastian yang akan dihadapi oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Sering kali manusia terlalu sibuk dan bersemangat mengejar urusan duniawi, sehingga melupakan fokus utama kehidupan, yakni kehidupan setelah kematian.
“Ada satu hal yang pasti terjadi pada setiap manusia, yaitu kematian. Kadang, saking semaraknya mengarungi kehidupan dan mengejar dunia, kita lupa apa yang menjadi fokus utama, yaitu kehidupan setelah mati. Dari apa yang kita tanam di ladang dunia itulah yang kelak menentukan nasib kita di akhirat,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah saat memberikan pesannya kepada java66news.com.
Menurut Abuyya, manusia kerap melihat kematian orang lain tanpa mengambil iktibar atau pelajaran. Seolah-olah kematian hanya milik orang lain, padahal setiap diri sebenarnya sedang berada dalam antrean menuju kematian yang sama.
“Kain kafan kita sebenarnya sudah ditenun, dan hakikatnya kita sedang mengantre. Jika orang lain meninggal dunia, hal serupa pasti akan terjadi pada kita,” tambahnya.
Beliau mengajak masyarakat untuk melakukan renungan mendalam mengenai kondisi di alam kubur. Di tempat tersebut, manusia akan berada dalam kesendirian, terbujur tanpa alas kasur, tanpa pintu dan jendela, serta berada dalam kegelapan dan kesepian. Segala bentuk kesulitan dan pertanggungjawaban amalan harus ditanggung seorang diri.
Oleh karena itu, Abuyya menekankan betapa beruntungnya seseorang yang memiliki banyak bekal amalan saleh. Keberuntungan tersebut akan makin bertambah jika didukung oleh doa dari keluarga, anak, istri, cucu, hingga cicit. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak memiliki bekal dan doa dari keluarga, kondisi di alam kubur tentu sangat menyedihkan dan penuh kesulitan.
Di akhir pesannya, Abuyya M. Hasan Syaibah mengimbau agar seluruh umat Islam menjadikan kehidupan akhirat sebagai fokus utama dalam setiap aktivitas dan ibadah sehari-hari.
“Jadikan kehidupan setelah mati menjadi fokus utama hingga semua ibadah didedikasikan untuk akhirat. Ingat, sekali kehilangan kesempatan di dunia, akhirat menjadi taruhannya. Jangan sampai ketika sudah berada di dalam kubur, kita baru menyesal dan ingin kembali ke dunia untuk memperbaiki ibadah,” pungkasnya.(SNA/Ebs)
