Pesan Perdamaian Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil: Indahnya Keberagaman dan Pentingnya Kebersihan Hati

Admin · 15 Sep 2026, 06:04 WIB · 68 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Pesan Perdamaian Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil: Indahnya Keberagaman dan Pentingnya Kebersihan Hati

PASURUAN, java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, menyampaikan pesan mendalam terkait indahnya toleransi, keberagaman, dan kebersihan hati dalam kehidupan bermasyarakat pada Senin (14/9/2026).

Pesan tersebut disampaikan langsung oleh Abuyya M. Hasan Syaibah kepada wartawan java66news.com di Bangil, Pasuruan. Beliau mengibaratkan kehidupan manusia yang majemuk seperti fenomena alam pelangi dan kelezatan sebuah masakan.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Indahnya pelangi tak terbentuk oleh satu warna, melainkan kolaborasi antarwarna. Begitu pun lezatnya sambal, tak terjadi oleh satu komponen bumbu, melainkan kolaborasi antarbumbu. Demikian dengan kehidupan manusia,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah.

Menurut beliau, kehidupan akan terasa sangat indah jika setiap individu mampu menikmati berbagai karakter, agama, tradisi, etnik, suku, ras, dan budaya. Keberagaman tersebut merupakan ketetapan Tuhan (Sunnatullah) yang sudah sepatutnya diterima dan disyukuri.

Beliau juga menyoroti kondisi batin seseorang yang enggan menerima perbedaan. Ketidakmampuan menerima kemajemukan justru akan mendatangkan beban pikiran dan ketidaktenangan hidup.

“Hanya hati yang tak menerima keberagaman dan perbedaan yang hidupnya susah bahagia, tertekan, dan terintimidasi oleh kemajemukan yang tak bisa ia terima. Jika ingin hidup bahagia, terima, damaikan hati, dan syukuri dengan menerima perbedaan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Abuyya M. Hasan Syaibah mengimbau masyarakat untuk selalu berhusnuzan (berprasangka baik) atas segala hikmah di balik ciptaan Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa penentu utama dalam memandang kebaikan adalah kondisi hati masing-masing individu.

“Ibarat matahari yang indah tetapi dikatakan silau karena matanya yang sakit. Dari hatilah ditentukan semua kondisi, bahkan seorang yang jelas pendosa pun tak berani menyalahkannya,” pungkas beliau.(SNA/Ebs)

68 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *