Abuyya M. Hasan Syaibah Luruskan Makna Gelar Al-Ummi Rasulullah SAW: Bentuk Tawaduk, Bukan Kelemahan Akademis

Admin · 1 Sep 2026, 22:56 WIB · 61 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah Luruskan Makna Gelar Al-Ummi Rasulullah SAW: Bentuk Tawaduk, Bukan Kelemahan Akademis

PASURUAN java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan penjelasan mendalam terkait pemahaman gelar Al-Ummi yang melekat pada diri Rasulullah SAW pada Selasa (1/9/2026). Menurut beliau, terdapat kekeliruan umum dalam menafsirkan gelar tersebut hanya sebatas “tidak bisa membaca dan menulis” secara teknis semata.

Abuyya M. Hasan Syaibah menegaskan bahwa gelar Al-Ummi pada hakikatnya merupakan bentuk tawadhu’ (rendah hati) dari Rasulullah SAW. Beliau menuturkan bahwa tidaklah tepat jika gelar tersebut dimaknai secara harfiah hingga merendahkan kedudukan dan martabat Nabi Muhammad SAW.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Gelar tersebut hakikatnya adalah gelar tawadhu’ Rasulullah SAW. Tidak seperti pada lazimnya yang dengan bangganya memamerkan deretan gelar kehormatan hingga tak cukup kolom tulisannya, Nabi tidaklah demikian,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah kepada java66news.com, Selasa (1/9/2026).

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa meskipun bersikap tawadhu’, Rasulullah SAW dibekali keunggulan intelektual dan spiritual yang sangat tinggi oleh Allah SWT. Dalam sejarah perjuangannya, Rasulullah SAW terbukti mampu berdebat, menjawab berbagai persoalan rumit, serta menaklukkan argumentasi para tokoh ternama yang mahsyur keilmuannya pada zaman itu.

“Secara standar akademik manusia, gelar tersebut terkesan rendah, tetapi beliau unggul dalam segala bidang. Rasulullah SAW mampu memberikan solusi dan mengalahkan mereka yang profesional di bidangnya,” tambahnya.

Melalui penjelasannya, Abuyya M. Hasan Syaibah berpesan agar umat Islam dapat mengambil hikmah mendalam dari gelar tersebut. Seseorang diperbolehkan menuntut ilmu dan memiliki gelar, namun tidak boleh sampai mendewakan atau merasa paling bangga atas gelar akademis yang dimiliki.

“Di atas orang alim ada yang lebih alim. Sebagaimana Rasulullah SAW dengan sikap tawadhu’-nya justru mampu mengatasi orang-orang yang profesional di bidangnya. Itulah rahasia menakjubkan di balik gelar Rasulullah SAW,” pungkasnya.(SNA/Ebs)

61 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *