Pesan Mendalam Abuyya M. Hasan Syaibah: Menjaga Kesucian Hati dan Refleksi Usia 40 Tahun

Admin · 17 Jun 2026, 08:04 WIB · 25 dilihat · 3 menit baca
Bagikan:
Pesan Mendalam Abuyya M. Hasan Syaibah: Menjaga Kesucian Hati dan Refleksi Usia 40 Tahun

PASURUAN, (java66news.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pesan spiritual yang mendalam mengenai pentingnya menjaga kesucian hati. Pesan bernilai edukatif ini disampaikan langsung kepada redaksi java66news.com pada Rabu (17/6/2026), sebagai bentuk refleksi dan introspeksi diri bagi umat Islam di tengah dinamika kehidupan modern.

Abuyya M. Hasan Syaibah menekankan bahwa kondisi batin atau hati seseorang secara natural akan tepercik pada penampilan lahiriahnya. Seseorang yang memiliki hati yang bersih (putih) secara otomatis memancarkan aura yang meneduhkan, ramah, dan tidak membosankan saat dipandang. Pancaran kesalehan tersebut dapat terlihat dari raut wajah, cara tersenyum, tutur kata, hingga pola pikir dan amal perbuatannya.

“Hati yang putih akan tergambar di raut wajah seseorang. Itu bisa dilihat dari auranya, cara senyumnya, bicaranya, akhlak perangainya, amal perbuatannya, dan cara berpikirnya. Nyaris semuanya menyejukkan,” tutur Abuyya M. Hasan Syaibah melalui pesan tertulis yang diterima redaksi

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Peringatan Keras Mengenai Hati yang Kotor

Sebaliknya, ulama karismatik asal Bangil Pasuruan ini memberikan peringatan keras mengenai bahaya hati yang kotor. Menurutnya, ancaman terbesar bagi seorang hamba adalah ketika Allah SWT mencabut aura kesalehan dari dirinya akibat kekotoran hati yang terus dibiarkan.

Abuyya menjelaskan bahwa kemuliaan di hadapan Allah tidak memandang warna kulit atau latar belakang fisik seseorang. Jika seseorang mendapatkan rida dari-Nya, maka gurat wajah yang bersahaja akan memancarkan kesalehan dengan sendirinya.

Refleksi Usia 40 Tahun Berdasarkan Kitab Ayyuhal Walad

Dalam pesannya Abuyya M. Hasan Syaibah mengutip nasihat monumental dari Imam Ghazali yang tertuang di dalam kitab Ayyuhal Walad. Kitab klasik tersebut memberikan batasan krusial mengenai fase usia manusia, khususnya saat menginjak usia di atas 40 tahun.

“Imam Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad-nya mengingatkan, jika seseorang telah melewati umur 40 tahun namun sifat baiknya masih belum bisa mengalahkan sifat buruknya, maka orang tersebut sudah disediakan tempat nistanya (neraka),” tegas Abuyya.

Poin kritis ini diharapkan menjadi bahan introspeksi dan refleksi mendalam bagi setiap individu. Abuyya mengingatkan bahwa tidak ada yang lebih tahu mengenai nasib dan posisi kita di akhirat kelak melainkan diri kita sendiri dan Allah SWT, sebab jawabannya tersimpan di dalam hati masing-masing.

Filosofi Jawa: Becik Kethitik, Olo Kethoro

Menutup pesannya, Abuyya menegaskan bahwa aura wajah dan esensi sejati dari hati manusia tidak akan pernah bisa dimanipulasi atau direkayasa oleh teknologi maupun topeng kepalsuan apa pun. Beliau menyitir sebuah filosofi luhur masyarakat Jawa untuk memperkuat pesan moral tersebut.

“Becik kethitik, olo kethoro. Kebaikan dan keburukan pada akhirnya tidak akan pernah bisa ditutupi,” pungkas pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah tersebut.

Melalui pesan spiritual ini, java66news.com mengajak seluruh pembaca untuk kembali merenungkan esensi kebersihan hati, memperbanyak amalan baik, serta menjadikan momentum usia sebagai ajang meningkatkan kualitas takwa sebelum waktu kembali kepada-Nya tiba. (J66/Red)

25 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →