PASURUAN, (java66news.com) – Pandangan mengenai pernikahan seringkali menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Kyai M. Hasan Syaibah, memberikan pesan menyejukkan mengenai perbedaan sudut pandang para ulama besar terkait pilihan hidup untuk menikah atau tetap melajang demi ilmu.
Dalam penyampaiannya, Kyai Hasan mengambil tamsil dari dua sosok ulama besar, yakni Imam Nawawi dan Imam Suyuthi, yang memiliki ijtihad berbeda dalam urusan rumah tangga.
Perbedaan Perspektif Ulama Besar
Kyai Hasan menjelaskan bahwa Imam Nawawi memilih untuk tidak menikah karena khawatir urusan duniawi dan syahwat dapat mematikan kreativitas serta fokusnya dalam menggali ilmu. Sebaliknya, Imam Suyuthi justru memilih menikah dengan keyakinan bahwa pernikahan menjadi pelecut semangat, menambah kreativitas, serta inovasi dalam berilmu.
“Begitulah orang-orang besar saling berhujjah. Keduanya tidak ada yang salah. Itulah salah satu kekuasaan Allah; meskipun sama-sama tercipta sebagai hamba, cara berpikir manusia bisa berbeda-beda,” ujar Kyai M. Hasan Syaibah.
Pentingnya Adab dalam Perbedaan
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa perbedaan ini menuntut adanya adab dalam menyikapi pilihan hidup orang lain. Kyai Hasan mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan pernyataan atau pendapat buruk kepada mereka yang memilih menikah maupun yang belum menikah.
Menurutnya, realita di lapangan menunjukkan hasil yang beragam:
Sebagian orang merasa hidupnya lebih terkendala setelah menikah.
Sebagian lainnya justru menemukan ketenangan (sakinah) dan kesuksesan setelah berumah tangga.
Kesimpulan: Ridho Allah adalah Muara Utama
Kyai M. Hasan Syaibah menegaskan bahwa karakter setiap individu berbeda-beda, sehingga kondisi hati dalam merasakan dan menyikapi kehidupan pun tidak bisa disamakan.
“Nikah atau tidak? Semua tergantung pribadi masing-masing. Yang terpenting, keduanya tetap menjadi orang shalih yang diridhoi Allah. Hidup adalah pilihan, yang paling utama adalah bagaimana ujung dari pilihan tersebut membawa kita mendapat ridho-Nya,” pungkas beliau.
Pesan ini menjadi pengingat bagi santri dan masyarakat luas bahwa fokus utama seorang hamba bukanlah pada status sosialnya, melainkan pada kualitas ketakwaan dan kontribusinya bagi agama, baik melalui jalur pernikahan maupun dedikasi penuh pada ilmu.(Red)
