Abuyya M. Hasan Syaibah: Al-Qur’an Itu Kalam Ilahi, Jangan Jadikan Konten Live Streaming Demi Pujian Netizen

Admin · 26 Apr 2026, 12:01 WIB · 66 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah: Al-Qur’an Itu Kalam Ilahi, Jangan Jadikan Konten Live Streaming Demi Pujian Netizen

PASURUAN, (java66news.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pesan mendalam terkait adab membaca Al-Qur’an di era digital. Beliau menyoroti fenomena maraknya pembaca Al-Qur’an yang melakukan live streaming di media sosial namun mengabaikan kekhusyukan dan kesucian kitab suci tersebut.

Al-Qur’an adalah Dialog dengan Allah

Abuyya M. Hasan Syaibah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah) yang suci, diturunkan melalui Malaikat Jibril yang suci kepada Rasulullah SAW yang suci pula. Membaca setiap hurufnya bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan bernilai ibadah dan merupakan bentuk dialog langsung hamba dengan Sang Pencipta.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Hakikat membaca Al-Qur’an adalah berdialog dengan Allah. Karena kesuciannya, ada tata cara dan adab yang harus dijaga. Al-Qur’an bukan koran yang bisa dibaca seenaknya tanpa aturan,” tegas Abuyya dalam pesan tertulisnya.

Kritik Terhadap Fenomena Live Streaming Muraja’ah

Memasuki era digitalisasi, Abuyya tidak menampik bahwa teknologi tidak bisa dibendung. Namun, beliau menekankan pentingnya sikap selektif dan berilmu agar tahu dampak positif serta negatifnya. Salah satu yang disorot tajam adalah fenomena penghafal Al-Qur’an yang melakukan live streaming dengan alasan muraja’ah (mengulang hafalan).

Menurut beliau, meski secara lahiriah terlihat bagus karena yang dibaca adalah ayat suci, namun praktiknya sering kali jauh dari adab.

“Saat membaca, mereka justru sibuk menghitung dan menjawab komentar netizen, baik yang memuji maupun mengkritik. Itu hakikatnya sangat tidak beradab. Sama saja dengan tidak menghormati Al-Qur’an,” lanjutnya.

Bahaya Riya dan Hilangnya Kekhusyukan

Abuyya juga memberikan catatan khusus bagi pembaca perempuan yang tampil di depan kamera dengan menonjolkan kecantikan wajahnya saat membaca Al-Qur’an. Beliau mempertanyakan bagaimana kekhusyukan bisa diraih jika fokusnya terbagi dengan merespons jumlah like atau komentar penonton.

“Apa tujuannya? Bukankah itu bisa menjurus pada Riya? Tidakkah kita malu pada Allah? Ingin dibalas pahala oleh Allah tapi masih ingin dilihat dan dipuji manusia. Berpikirlah!” tutup Abuyya M. Hasan Syaibah dengan nada mengingatkan.

Pesan ini diharapkan menjadi bahan renungan bagi seluruh umat Muslim agar kembali menata niat dan menjaga adab dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, terutama di tengah gempuran media sosial.(Red)

66 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →