PASURUAN, (java66news.com) – Ikatan pernikahan yang sah di dunia ternyata tidak menjadi jaminan otomatis bahwa pasangan suami istri (pasutri) akan kembali berdampingan di akhirat. Kebersamaan di surga kelak sangat bergantung pada keselarasan amal ibadah serta kerendahan hati untuk saling memaafkan selama hidup di dunia.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, saat memberikan keterangan kepada java66news.com pada Rabu (10/6/2026).
Menurut Abuyya, akad pernikahan memang menjadi pelebur sekat yang menyatukan pria dan wanita di dunia. Kendati demikian, untuk meneruskan kebersamaan tersebut ke alam akhirat, diperlukan komitmen spiritual yang kuat dari kedua belah pihak dalam menjalankan peran masing-masing.
“Semua bergantung pada kesepakatan bersama. Bisakah suami menjadi imam yang baik, dan bisakah istri menjadi makmum yang baik? Dalam shalat pun, jika imam tidak sesuai dengan rukun, makmum bisa mufaraqah (memisahkan diri) dari barisan jemaah. Demikian pula dengan pasutri,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah.
Beliau mengingatkan, jika suami dan istri tidak berjalan selaras, seiya sekata, serta saling menunaikan kewajiban, peluang untuk bersama di akhirat akan sirna. Kebersamaan tersebut hanya akan bertahan di dunia, sebagaimana yang terjadi pada kisah Nabi Luth alaihis salam dengan istrinya.
Oleh karena itu, Abuyya menekankan pentingnya bagi setiap anggota keluarga—baik suami, istri, anak, maupun orang tua—untuk memiliki kerendahan hati dalam saling meminta maaf atas segala kekhilafan.
Langkah ini krusial agar proses hisab (perhitungan amal) kelak berjalan lancar tanpa adanya aksi saling menuntut atau menyalahkan di hadapan Allah Swt.
“Sebab, tidak sedikit orang yang sukses dalam urusannya dengan Allah, tetapi tidak dengan urusan anak Adam (sesama manusia),” pungkas Abuyya.(J66/Red)
