PASURUAN, (java66news.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M. Hasan Syaibah, menekankan pentingnya setiap Muslim untuk menjaga kesucian hati dari penyakit kebencian terhadap sesama makhluk Tuhan. Pesan mendalam ini disampaikan beliau kepada redaksi java66news.com pada Sabtu (9/5/2026).
Menurut Abuyya, membenci ciptaan Tuhan, apa pun bentuknya—baik itu kepada pelaku maksiat (pendosa), hewan, bahkan kepada kaum kafir sekalipun—pada hakikatnya merupakan bentuk ketidaksenangan terhadap Sang Pencipta.
“Pentingnya dalam menjaga hati jangan sampai ada kebencian walau kepada pendosa sekalipun. Sebab Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya,” tutur Abuyya.
Misteri Ketetapan Takdir (Azali)
Dalam penjelasannya, tokoh ulama asal Bangil ini mengingatkan bahwa nasib akhir seseorang (Husnul Khatimah atau Su’ul Khatimah) adalah hak prerogatif Allah SWT yang telah tertulis sejak zaman azali. Beliau menyoroti bahwa ibadah seseorang bukanlah jaminan mutlak jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati.
“Sangat mungkin seseorang yang sepanjang hidupnya bergelimang maksiat, namun jika di zaman azali tertulis sebagai ahli surga, maka di akhir hayatnya Allah beri kesempatan bertaubat. Sebaliknya, ada yang ahli ibadah namun di akhir hayatnya justru tergelincir,” jelasnya.
Fokus pada Diri Sendiri, Bukan Menilai Orang Lain
Lebih lanjut, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak masyarakat untuk tetap istiqomah dalam beribadah tanpa merasa lebih suci dibandingkan orang lain. Beliau memperingatkan agar manusia tidak “mengurusi wilayah orang lain” atau menghakimi status keselamatan seseorang.
“Berhati-hatilah, jangan buruk sangka. Kepastian surga dan neraka itu prerogatif Allah SWT, bukan semata karena ibadah kita. Semuanya atas kendali Allah,” tegas pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah tersebut.
Di akhir pesannya, beliau memberikan nasehat yang menohok tentang pentingnya introspeksi diri (muhasabah). Beliau menilai adalah sebuah kenaifan jika seseorang sibuk mencari celah dan kesalahan orang lain, namun lupa akan kondisi jiwanya sendiri yang belum tentu aman di mata Tuhan.
“Sungguh sangat naif jika kita pandai menelisik keberadaan orang lain, namun lupa akan keberadaan dirinya sendiri,” pungkasnya.(Red)
