PASURUAN, (java66news.com) – Sedekah dan zakat bukan sekadar ritual ibadah sosial biasa, melainkan sebuah instrumen spiritual yang memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan seorang muslim. Di dalam kitab Dzurrotunnashihin, termaktub lima keutamaan agung bagi orang yang gemar bersedekah. Kelima keutamaan tersebut adalah hartanya akan bertambah, menjadi obat penawar bagi yang sedang sakit, mampu menghilangkan serta menolak bala (musibah), diberikan kecepatan berjalan di atas jembatan Shiratal Mustaqim bak kilat menyambar, hingga yang terakhir adalah jaminan masuk surga tanpa hisab serta terbebas dari azab Allah SWT.
Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari, sering kali terjadi kerancuan pemahaman. Perlu ditegaskan bahwa sedekah pada hakikatnya bukanlah zakat. Seseorang belum bisa dikatakan berjiwa dermawan (karim) jika ia hanya sekadar mengeluarkan zakat. Mengapa demikian? Karena zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan berdasarkan hukum agama, sama halnya dengan kewajiban seorang kepala rumah tangga dalam menghidupi anak, istri, orang tua, dan keluarganya. Hal-hal tersebut bukanlah sedekah, melainkan sebuah tanggung jawab mutlak dan kewajiban dasar.
Sebaliknya, sedekah tidak mengenal batasan nisab (ukuran minimum harta) dan tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya raya. Sungguh sebuah pandangan yang sangat naif jika menganggap bahwa urusan berbagi harta hanya terbatas pada zakat saja. Menolak atau meninggalkan sedekah justru menjauhkan kita dari kemuliaan. Nilai kemuliaan yang sangat tinggi justru disematkan kepada mereka yang secara finansial mungkin belum wajib berzakat, namun memiliki kegemaran dan keistiqomahan dalam bersedekah.
Sikap menimbun harta, enggan berzakat, serta kikir dalam bersedekah dipastikan akan membawa efek negatif yang fatal. Sebab, di dalam setiap harta yang dimiliki oleh orang kaya, sejatinya terselip hak-hak kaum miskin yang wajib ditunaikan.
Apabila bagian yang menjadi hak si miskin tersebut tidak dikeluarkan, maka bersiaplah menghadapi konsekuensi dicabutnya keberkahan dari harta tersebut. Bahkan dalam berbagai ketentuan spiritual, disinyalir bahwa kadang kala Allah SWT memaksakan harta yang kotor itu keluar dengan jalan-jalan yang tidak diinginkan melalui serangkaian cobaan hidup. Cobaan tersebut bisa berwujud datangnya penyakit berat yang tak kunjung sembuh, musibah kebakaran, menjadi korban pencurian, maupun kerugian materiil lainnya.
Oleh karena itu, sebagai refleksi keimanan kita hari ini, marilah kita berkomitmen untuk senantiasa berzakat dan bersedekah semampunya. Langkah nyata ini menjadi benteng utama agar harta yang kita miliki berubah menjadi harta yang berkah, bersih, serta suci dari segala syubhat. Dengan menunaikan hak-hak sesama, niscaya seluruh harta dan kehidupan kita akan selalu berada dalam penjagaan dan perlindungan penuh Allah SWT.(J66/Red)
