Mengulik ‘Ideologi Gila’ ala Santri: Modalnya Tauhid, Berani Nikah, dan Mengabdi Tanpa Ragu

Admin · 4 Jun 2026, 13:45 WIB · 75 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Mengulik ‘Ideologi Gila’ ala Santri: Modalnya Tauhid, Berani Nikah, dan Mengabdi Tanpa Ragu

PASURUAN, (java66news.com) – Kehidupan santri selalu menyimpan keunikan tersendiri yang sulit diukur dengan logika materi formal. Di balik kesederhanaan dan keterbatasan finansial, kaum sarungan justru kerap menunjukkan mentalitas yang tangguh dalam menghadapi masa depan. Hal inilah yang disoroti oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah.

Kepada redaksi java66news.com pada Kamis (4/6/2026), Abuyya memaparkan apa yang ia sebut sebagai keunikan terdalam dari seorang santri, yaitu kekuatan Ilmu Tauhid yang luar biasa—atau dalam istilah yang menggelitik ia sebut sebagai “ilmu tauhid yang gila”.

“Seolah tiada takutnya akan kehidupan yang kata orang susah dan perlu usaha kerja keras. Bagi santri, perasaan (takut) itu tidak ada,” ungkap Abuyya.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Punya ‘Dekengan Pusat’ dan Berani Menikah

Fenomena yang paling nyata dari kuatnya tauhid ini adalah keberanian santri untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Abuyya menyebutkan, meski secara finansial sering kali jauh dari kata cukup dan belum memiliki gambaran pasti mengenai pekerjaan atau usaha di masa depan, santri tetap berani mengambil keputusan besar untuk menikah.

Kuncinya terletak pada keyakinan penuh terhadap janji Allah SWT dalam Al-Qur’an:

ان يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله (Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya).

“Mereka merasa punya dekengan (backing) dari pusat. Seolah kehidupan ini dibikin enjoy dan tiada masalah. Itulah lebihnya santri. Ijazah pun seolah dilecehkan, hanya dibuat sebatas aksesori sebagai legalitas ilmu saja,” imbuh beliau sembari tersenyum.

Pesan Tegas Guru: Mengajar dan Menikah Adalah Kunci

Lebih jauh, Abuyya juga menyoroti peran guru atau kiai yang mendidik para santri dengan prinsip yang tak kalah kuat. Beliau menyampaikan pesan mendalam bagi para santri yang sudah merampungkan masa belajarnya dan kembali ke masyarakat.

Jika seorang santri pulang ke rumah namun tidak mengajar atau tidak menikah, Abuyya menyarankan agar mereka lebih baik kembali lagi ke pondok pesantren. Menurutnya, mencari pekerjaan keduniawian semata tidak boleh menjadi prioritas utama yang mengalahkan pengabdian.

“Mengajar dan nikah, itulah cara hidup yang keren. Sebab dengan mengajar itulah embrio keberkahan dan manfaat akan membuka sekat serta pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tertutup,” tegas Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah tersebut.

Santri Is The Best

Menutup perbincangannya, Abuyya mengajak semua pihak untuk meyakini ideologi kuat khas santri ini. Pandangan hidup yang tidak pernah mengkhawatirkan hari esok, digenapi dengan modal mengajar serta untaian doa dari Kiai, Nyai, dan para Guru, diyakini akan menata jalan hidup santri dengan sendirinya di semua lini kehidupan.

“Yakinlah dengan ideologi santri yang memandang hidup itu bukan hal yang dikhawatirkan. Memang, Santri is the best,” pungkasnya. (EBS/Red)

75 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →