Menemukan Kedamaian Hakiki: Mengapa Islam Begitu Indah bagi Pencari Kebenaran dan Muallaf?

Admin · 3 Jun 2026, 11:52 WIB · 27 dilihat · 3 menit baca
Bagikan:
Menemukan Kedamaian Hakiki: Mengapa Islam Begitu Indah bagi Pencari Kebenaran dan Muallaf?

PASURUAN, (java66news.com) – Memeluk suatu keyakinan bukan sekadar status di kartu identitas, melainkan sebuah perjalanan spiritual mencari kebenaran. Bagi para pencari kebenaran dan mualaf, Islam sering kali hadir sebagai jawaban atas kegelisahan jiwa. Keindahan, kesempurnaan, dan kedamaian yang ditawarkan agama samawi ini mampu menyejukkan hati siapa saja yang mau membuka diri untuk mempelajarinya.

Menanggapi fenomena ini, Abuyya M Hasan Syaibah, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah AL-Hasaniyyah, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, memberikan pandangan mendalam mengenai esensi Islam yang kafah (menyeluruh) agar umat semakin memahami dan mencintai Islam.

Menurut Abuyya M Hasan Syaibah, ada empat poin utama mengapa Islam begitu memikat hati para pencari kebenaran:

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

1. Ibadah yang Terbimbing dan Berdasar, Bukan Rekayasa

Abuyya menjelaskan bahwa Islam adalah agama samawi yang sempurna. Setiap ritual ibadah di dalamnya tidak dilakukan secara sembarangan, “ngawur”, atau mengikuti rekayasa pikiran manusia semata. Semua memiliki panduan dan petunjuk yang jelas.

Umat Islam bergerak di atas empat pilar landasan hukum yang kokoh:

Al-Qur’an: Kitab suci yang menjadi petunjuk utama.

Hadis: Sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW.

Ijma’: Kesepakatan para ulama.

Qiyas: Analogi ilmu untuk perkara-perkara baru.

Dengan landasan ini, setiap amal ibadah yang dilakukan memiliki pertanggungjawaban ilmiah dan spiritual yang matang.

2. Agama Solutif: “Agama adalah Nasihat”

Dalam Islam, tidak ada masalah kehidupan yang tidak memiliki solusi. Hal ini berakar dari prinsip bahwa agama adalah An-Nasihah (nasihat). Dari petunjuk dan nasihat-nasihat suci inilah lahir berbagai solusi atas problematika hidup, mulai dari urusan personal hingga sosial. Islam hadir bukan untuk merepotkan pemeluknya, melainkan untuk memberikan jalan keluar yang menenangkan.

3. Berporos pada Rahmah (Cinta dan Empati)

Beliau menekankan bahwa ruh utama dari ajaran Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin—kasih sayang bagi semesta alam. Jiwa dari agama ini adalah cinta dan empati. Jika seseorang beragama namun kehilangan rasa cinta dan empati di hatinya, maka ia belum memahami hakikat beragama yang sesungguhnya. Cinta inilah yang mengikat hati para mualaf untuk bersujud dengan penuh keikhlasan.

4. Hukum yang Fitrah dan Relevan Sepanjang Masa

Sebagai kitab suci, Al-Qur’an tidak memiliki keraguan sedikit pun di dalamnya. Semua produk hukum dan syariat Islam bersifat fitrah—sejalan dengan hati nurani manusia yang paling dalam.

Jika ada sebagian orang yang menganggap Al-Qur’an tidak relevan, Abuyya M Hasan Syaibah mengingatkan bahwa hal itu bukan karena agamanya yang keliru, melainkan karena keterbatasan ilmu dan cara pandang manusia itu sendiri. Oleh karena itu, bagi para mualaf dan pencari kebenaran, kuncinya adalah terus belajar tanpa henti.

Di akhir penyampaiannya, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah AL-Hasaniyyah Bangil ini memberikan pesan menyentuh bagi siapa saja yang sedang mencari kebenaran:

“Teruslah belajar memahami agama Islam dengan KAFFAH. Jika kau sampai pada titik itu, pasti lisanmu akan berucap: Subhanallah, aku ridha Engkau menjadi Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabi serta utusan-Mu.”

Bagi Anda yang sedang dalam perjalanan menjemput hidayah, kuatkan langkah. Islam menyambut setiap jiwa yang rindu akan kebenaran dengan tangan terbuka dan kedamaian yang tak bertepi. (J66/Red)

27 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →