Menghidupkan Empati Lewat Qurban: Lebih dari Sekadar Ritual, Menghapus Sifat Keduniawian

Admin · 28 Mei 2026, 08:31 WIB · 12 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Menghidupkan Empati Lewat Qurban: Lebih dari Sekadar Ritual, Menghapus Sifat Keduniawian

PASURUAN (java66news.com) – Menyambut momentum ibadah qurban yang sarat akan makna spiritual, masyarakat diajak untuk menggali lebih dalam esensi sejati dari syariat tersebut. Ibadah qurban dinilai bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan ternak atau memperdebatkan status hukum fikih semata, melainkan sebuah instrumen besar untuk mengikis sifat keduniawian dan menghidupkan empati sosial yang nyata di tengah kehidupan bermasyarakat.

Hal ini mengemuka dalam refleksi keagamaan mengenai urgensi qurban sebagai manifestasi kesalehan sosial. Intisari dari perintah berqurban yang disunnahkan oleh Allah SWT sesungguhnya adalah untuk mendidik jiwa manusia agar gemar berbagi dan bersedekah. Langkah ini menjadi bentuk syukur yang konkret—bukan sekadar ucapan di bibir—melainkan diwujudkan melalui pengorbanan harta demi kemaslahatan sesama manusia.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa menggerakkan hati untuk berqurban tidaklah mudah. Sering kali, manusia didominasi oleh rasa “Eman” (perasaan sayang yang berlebihan terhadap harta benda duniawi). Rasa enggan ini kerap membuat seseorang melupakan hakikat bahwa Allah SWT adalah Dzat yang memberikan rezeki.

Sebagian orang bahkan terjebak dalam perdebatan hukum dasar yang sebatas “Sunnah”, sehingga mengabaikan esensi pengorbanan itu sendiri. Bagi mereka yang belum memiliki kemantapan iman, qurban terkadang dipandang sebelah mata sebagai aktivitas yang menghamburkan uang, atau berdalih masih banyak hal wajib lain yang harus didahulukan. Padahal, hanya mereka yang beriman yang mau berpasrah, berkorban, dan memiliki keyakinan penuh atas balasan terbaik dari Allah SWT.

Ibadah qurban adalah cara mulia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ibadah sosial (jalur horizontal). Kesalehan seorang hamba belum bisa dikatakan sempurna jika ia hanya fokus pada ibadah ritual yang bersifat individual kepada-Nya (jalur vertikal), sementara kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya terabaikan. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu memberikan sumbangsih manfaat paling besar bagi sesamanya.

Pada akhirnya, inti dari seluruh rangkaian ibadah ini adalah penerimaan dengan hati yang ikhlas, atau dalam kearifan lokal dikenal dengan istilah “ngesthoaken dawuh” (patuh dan setia melaksanakan perintah Tuhan) tanpa terus-menerus melihat apakah itu ibadah wajib atau sunnah. Sebab, bentuk apresiasi tertinggi dari Allah SWT hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beribadah secara tulus, murni, dan tanpa tendensi keduniawian sedikit pun.(Red)

12 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →