Abuyya M. Hasan Syaibah: Pentingnya Menimbang Doktrin dengan Al-Qur’an dan Akal Sehat

Admin · 14 Mei 2026, 06:16 WIB · 45 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Abuyya M. Hasan Syaibah: Pentingnya Menimbang Doktrin dengan Al-Qur’an dan Akal Sehat

PASURUAN, (java66news.com)– Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pesan mendalam terkait fenomena doktrin keagamaan yang sering kali mengesampingkan nilai ilmu pengetahuan dan akal sehat. Dalam sebuah pernyataan yang diterima redaksi pada Kamis (14/5/2026), beliau menekankan pentingnya kembali kepada esensi ajaran Al-Qur’an.

Menimbang Ilmu dan Takwa di Atas Segalanya

Abuyya M. Hasan Syaibah menyoroti munculnya pernyataan atau doktrin yang menyebutkan bahwa keberadaan satu sosok bergelar tertentu—meski tanpa ilmu—lebih mulia dibandingkan puluhan ulama atau kyai yang alim (berilmu). Menurutnya, pandangan seperti itu berpotensi mengaburkan makna hakiki dari ayat suci Al-Qur’an.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Beliau mengutip penggalan Surat Al-Hujurat ayat 13:

“Inna akramakum ‘indallahi atqakum” (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa).

“Jika keberadaan ilmu dan kealiman seseorang dianggap tak berharga dibandingkan sekadar status atau garis keturunan, maka apa artinya kita bersusah payah mencari ilmu hingga menjadi alim?” tegas Abuyya dalam pesannya.

Intelegensi Sebagai Penyaring Kebenaran

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tujuan utama menuntut ilmu adalah agar manusia memiliki kemampuan untuk menyaring, memilih, memilah, dan memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Beliau mengajak umat untuk tidak terjebak dalam taqlid buta (mengikuti tanpa dasar) yang dipicu oleh kecintaan yang tidak berlandaskan ilmu.

“Jangan sampai ilmu dikalahkan oleh nafsu hingga membutakan mata hati. Berilmu artinya kita menggunakan akal sehat untuk berpegang pada wahyu Allah, bukan sekadar mengikuti statmen manusia yang bertentangan dengan kitab suci,” tambahnya.

Mengacu pada Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani

Sebagai landasan berpikir, Abuyya mengutip dawuh (ucapan) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitab manaqibnya. Beliau menegaskan bahwa kebencian maupun kecintaan tidak boleh diukur oleh hawa nafsu atau rasa suka semata.

“Sandarannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Jika sebuah doktrin atau pernyataan tidak sesuai dengan keduanya, maka harus dibuang. Kita harus cerdas bernurani agar tidak tersesat dalam doktrin yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kebenaran Islam yang murni,” tutupnya.

Pesan ini diharapkan dapat menjadi oase bagi masyarakat untuk tetap kritis dan bijak dalam menyerap informasi serta doktrin keagamaan di era modern ini.(Red)

45 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →