OPINI: Menyoal Rendahnya Minat Baca di Era Digital, Catatan Reflektif Cak Edo

Admin · 12 Sep 2026, 03:50 WIB · 74 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
OPINI: Menyoal Rendahnya Minat Baca di Era Digital, Catatan Reflektif Cak Edo

PASURUAN java66news.com – Persoalan rendahnya minat baca di Indonesia hingga kini masih menjadi tantangan mendasar yang belum menemukan penawar manjur. Meskipun berbagai strategi budaya literasi terus digelorakan oleh para pakar dan praktisi pendidikan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa generasi muda justru semakin jauh dari tradisi membaca dan memegang buku.

Pengamat sosial sekaligus pemilik usaha Es Doger, Rudi Edogawa (Cak Edo), membagikan pandangannya mengenai dinamika literasi dan tantangan dunia pendidikan nasional saat berada di kawasan Beji, Pasuruan. Melalui pergaulannya yang erat bersama para pendidik, kepala sekolah, serta keterlibatannya dalam Jaringan Penggerak Sekolah/Madrasah (JPSM) dan Indonesia School Leader Association (ISLA), Cak Edo menilai ada akar masalah yang harus dibenahi bersama.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Menurut Cak Edo, krisis minat baca tidak terlepas dari minimnya kebiasaan menulis di lingkungan masyarakat maupun pendidik. Kebiasaan membaca dan menulis merupakan dua hal yang saling menopang. Rendahnya kesadaran untuk menulis secara langsung berdampak pada menurunnya kegemaran membaca.

“Minat baca yang rendah ini kerap memicu keprihatinan di kalangan tenaga pendidik. Di era kecanggihan teknologi dan globalisasi saat ini, masyarakat dihadapkan pada pilihan: memanfaatkan gawai untuk membaca dan menulis, atau sekadar menghabiskan kuota secara cuma-cuma,” ujar Cak Edo saat memberikan keterangan opini media.

Ia menekankan pentingnya peran lingkungan dan figur teladan (role model) dalam menumbuhkan kembali semangat belajar anak. Menurutnya, anak-anak merupakan peniru yang ulung. Oleh karena itu, keteladanan dari orang tua dan guru dalam memperlihatkan kebiasaan membaca sehari-hari menjadi kunci utama, bukan sekadar memberikan instruksi verbal.

Lebih lanjut, Cak Edo menggarisbawahi perlunya penyediaan bacaan atau artikel sederhana yang dilengkapi visual menarik guna merangsang minat belajar anak sesuai kondisi lingkungan. Langkah fleksibel ini dinilai lebih efektif ketimbang menerapkan pola edukasi yang kaku.

“Isu krisis literasi ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan wacana. Perlu sinergi nyata antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan. Kita semua harus bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menjadi contoh dalam membudayakan membaca di lingkungan masing-masing?” pungkasnya.

Persoalan literasi ini diharapkan dapat mendorong para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk terus berinovasi dan tidak cepat berpuas diri, demi melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing. (Ebs/Puj)

74 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *