JAKARTA — java66news.com Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperketat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia seiring terdeteksinya ratusan anomali suhu panas. Hingga Selasa malam (8/9/2026), sistem SiPongi mencatat sebanyak 397 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh Indonesia.
Data titik panas tersebut dihimpun melalui pemantauan gabungan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Hasil pantauan menunjukkan bahwa konsentrasi hotspot tertinggi berada di enam provinsi prioritas, dengan Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah sebagai daerah penyumbang terbanyak.
Sebaran Titik Panas (Hotspot) di Enam Provinsi Prioritas:
Sumatera Selatan: 76 titik
Kalimantan Tengah: 63 titik
Kalimantan Barat: 12 titik
Riau: 8 titik
Kalimantan Selatan: 6 titik
Jambi: 3 titik
Kepala Biro HKLN Kementerian Kehutanan, Dr. Ristianto Pribadi, S.Hut., M.Tourism, menegaskan bahwa penemuan titik panas ini tidak selalu menandakan telah terjadi kebakaran secara langsung di lokasi tersebut.
“Hotspot bukan berarti satu titik sama dengan satu kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck di lapangan,” ujar Dr. Ristianto Pribadi dalam keterangannya kepada Java66News.com, Rabu (9/9/2026).
Penanganan Masif di Jalur Darat dan Udara
Menanggapi lonjakan titik panas tersebut, aksi pemadaman dan pencegahan secara terpadu terus digencarkan. Tim Manggala Agni dikerahkan bersama unsur TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BPBD, pemerintah daerah, sektor swasta, hingga masyarakat setempat.
Upaya penanganan darat mencakup patroli rutin, pemeriksaan lapangan (groundcheck), pemadaman api, pembuatan penyekatan basal api, tindakan penuntasan sisa api (mopping up), hingga pendinginan area terbakarnya lahan.
Selain penanganan darat, sebanyak 53 armada udara disiagakan di enam provinsi prioritas dengan pembagian tugas:
34 armada udara difokuskan untuk pemadaman bom air (water bombing).
19 armada udara dikerahkan untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dampak Modifikasi Cuaca dan Kondisi Kualitas Udara
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pada Selasa (8/9/2026) terbukti memicu hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Presipitasi ini membantu proses pembasahan lahan gambut yang rawan serta mempercepat pemadaman api.
Meski demikian, kondisi kualitas udara berdasarkan pemantauan konsentrasi partikulat PM2,5 masih menunjukkan angka yang bervariasi. Sebagian besar wilayah Indonesia berada pada rentang kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan tercatat masuk dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan mencapai level berbahaya di area tertentu.
Dr. Ristianto Pribadi mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Mari cegah karhutla bersama. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, segera laporkan kepada petugas atau Posko Karhutla Kementerian Kehutanan,” pukasnya. (PCK/Ebs)
