PASURUAN, java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pandangannya terkait maraknya fenomena sound horeg yang kini memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan kepada media java66news.com pada Kamis (17/9/2026).
Abuyya M. Hasan Syaibah menilai bahwa pro dan kontra merupakan hal yang wajar dalam sebuah perbedaan pandangan. Menurutnya, hal terpenting adalah masyarakat tidak merasa paling benar sendiri serta tetap menghormati argumen orang lain, selama persoalan yang diperdebatkan masuk dalam ranah furu’iyyah (cabang agama) dan bukan qoth’iyyah (prinsip pokok).
“Fenomena sound horeg ibarat hujan deras berpetir yang tidak ada satu pun pawang hujan bisa meredakannya. Langkah bijaknya adalah menikmati hujannya dengan berpayung agar tidak basah kuyup, sambil menanti redanya,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah.
Beliau menekankan bahwa masalah ini tergolong rumit sehingga para ulama perlu berhati-hati dalam menentukan kedudukan hukumnya. Dalam menyikapi fenomena ini, beliau mengutarakan prinsip Jawa yang dinilai tepat, yaitu “ngono yo ngono, tapi ojok ngono” (boleh begitu, tetapi jangan sampai seperti itu).
Prinsip tersebut bermakna masyarakat disilakan berkreasi dan berinovasi, namun jangan sampai kebablasan atau melampaui batas. Manusia merupakan makhluk terhormat, sehingga ada aturan hukum yang tetap harus dipatuhi untuk menjaga kehormatan tersebut dan tidak sekadar mengumbar nafsu atas nama seni atau inovasi.
Ia juga mengingatkan agar energi masyarakat tidak habis untuk hal-hal yang salah arah sehingga berakhir menjadi fatamorgana atau sia-sia semata.(SNA/Ebs)
