Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil Ungkap Makna Kesucian Hakiki dan Pentingnya Taubatan Nasuha

Admin · 8 Sep 2026, 15:40 WIB · 93 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil Ungkap Makna Kesucian Hakiki dan Pentingnya Taubatan Nasuha

PASURUAN – java66news.com Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, menyampaikan pesan mendalam terkait makna kesucian hakiki seorang hamba di hadapan Allah SWT pada Selasa (8/9/2026).

Dalam penjelasannya, Abuyya M. Hasan Syaibah menyoroti alasan di balik larangan masuknya orang musyrik ke dalam masjid meskipun secara lahiriah mereka tampak bersih. Menurut beliau, kebersihan fisik seperti pakaian dan aksesoris yang digunakan tidak serta-merta mencerminkan kesucian hakiki jika seseorang menyekutukan Allah SWT dan tidak beriman.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Orang musyrik dianggap najis secara hakikat karena menyekutukan Allah. Sebaliknya, orang beriman dipandang suci oleh Allah SWT secara akidah,” jelas Abuyya.

Kendati demikian, beliau mengingatkan bahwa seorang mukmin pun secara hakiki masih dapat dikatakan ‘belum suci’ apabila dalam hatinya masih tertanam penyakit dan sifat-sifat kotor yang belum dibersihkan. Sebab, fitrah awal manusia saat dilahirkan adalah suci.

Untuk mengembalikan kesucian fitrah tersebut, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak umat Muslim untuk melakukan pembersihan diri secara menyeluruh atau refreshment batin. Langkah ini dilakukan melalui pertaubatan yang sungguh-sungguh (Taubatan Nasuha), baik lewat lisan, perbuatan, maupun hati, guna membuang segala pengaruh negatif dari dalam diri.

“Setiap orang harus menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri melalui Taubatan Nasuha. Jangan pernah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT, seberapa banyak pun dosa yang telah diperbuat. Janji Allah SWT jelas, barang siapa yang benar-benar bertaubat, maka dosa-dosanya akan dihapuskan,” ungkapnya.

Sebagai penutup, beliau memberikan perumpamaan tentang proses metomorfosis seekor ulat yang semula dianggap menjijikkan, namun berhasil berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Hal tersebut terjadi karena adanya kemauan untuk berubah. Begitu pula manusia yang mau bertobat dan kembali ke jalan Allah SWT, akan diangkat derajatnya menjadi pribadi yang mulia dan suci kembali.(SNA/Ebs)

93 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *