Sikapi Fenomena Sound Horeg, Abuyya M. Hasan Syaibah Tekankan Pendekatan Kasih Sayang dan Edukasi

Admin · 6 Sep 2026, 11:33 WIB · 49 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Sikapi Fenomena Sound Horeg, Abuyya M. Hasan Syaibah Tekankan Pendekatan Kasih Sayang dan Edukasi

PASURUAN java66news.com – Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuyya M. Hasan Syaibah, memberikan pandangan mendalam terkait maraknya fenomena sound horeq yang memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.

Menurut Abuyya M. Hasan Syaibah, kecenderungan psikologis manusia umumnya penasaran terhadap hal-hal yang dilarang. Oleh karena itu, penyelesaian polemik sound horeq tidak bisa dilakukan hanya dengan tindakan arogan, menyudutkan, atau melarang secara mendadak.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Karakter dasar manusia cenderung menyukai apa yang dilarang karena rasa penasaran yang kuat. Jika pelarangan dilakukan secara arogan dan menyudutkan, mereka tidak akan sadar, melainkan justru melawan,” ujar Abuyya M. Hasan Syaibah kepada java66news.com, Minggu (6/9/2026).

Ia menyarankan agar penanganan fenomena ini menggunakan pendekatan komunikasi yang persuasif dan berbasis kasih sayang. Ibarat merangkul anak, masyarakat atau pihak terkait perlu memahami terlebih dahulu maksud dan tujuan dari para pelaku atau komunitas sound horeq sebelum menyampaikan pesan edukatif saat situasi sudah kondusif.

Lebih lanjut, Abuyya M. Hasan Syaibah menekankan pentingnya solusi yang elegan tanpa harus mematikan kreativitas maupun mata pencaharian warga. Mengingat perkembangan zaman dan peradaban akan terus berjalan, larangan keras tanpa alternatif hanya akan menimbulkan penolakan yang lebih besar.

“Terlepas dari aspek hukum halal maupun haramnya, pendekatan awal sangat penting. Jangan langsung dihakimi atau dimatikan penampilannya. Sound horeq saat ini sudah menjadi tren yang sulit dihilangkan begitu saja. Maka, diperlukan cara elegan untuk mengarahkan mereka ke hal-hal positif agar tidak mematikan karir dan mata pencaharian mereka,” tegasnya.

Ia menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan agama harus menjadi fondasi utama dalam menghadirkan solusi atas setiap inovasi baru di masyarakat, bukan sekadar mempermasalahkan perkembangan zaman.(SNA/Ebs)

49 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *