PASURUAN, (java66news.com) – Di tengah gempuran modernisasi, pelestarian budaya Jawa tetap menemukan pilar kekuatannya melalui sosok-sosok yang berdedikasi tinggi. Salah satunya adalah Tarmudji, S.Pd, seorang praktisi Pranoto Adicoro atau Master of Ceremony (MC) bahasa Jawa terkemuka asal Pasuruan, Jawa Timur.
Tarmudji bukan sekadar pembawa acara biasa. Keahliannya dalam mengolah sastro dan basa (sastra dan bahasa) menjadikannya sosok yang sangat diperhitungkan dalam berbagai upacara adat, mulai dari pernikahan (pengantin) hingga acara formal kenegaraan yang kental dengan nuansa tradisional.
Keahlian dan Dedikasi
Sebagai seorang pendidik (S.Pd), Tarmudji memadukan kemampuan pedagogis dengan seni retorika Jawa yang adiluhung. Ia dikenal memiliki penguasaan vokal yang mantap (wicara), penampilan yang luwes (wiraga), serta kedalaman pemahaman mengenai urutan upacara adat (tata cara).
“Menjadi seorang Pranoto Adicoro bukan hanya soal berbicara di depan umum, tetapi juga menjaga marwah dan filosofi dari setiap kata yang diucapkan,” ujar salah satu rekan sejawatnya.
Pilar Budaya di Pasuruan
Kehadiran Tarmudji di wilayah Pasuruan dan sekitarnya memberikan warna tersendiri. Ia seringkali menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin menyelenggarakan hajatan dengan pakem Jawa yang benar namun tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dedikasinya dalam menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil yang fasih menjadi inspirasi bagi generasi muda agar tidak lupa pada akar budayanya.
Membangun Generasi Melek Budaya
Selain aktif di lapangan, Tarmudji juga dikenal vokal dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga identitas lokal. Melalui perannya, ia berharap seni Panyandra (penggambaran keindahan dalam prosesi adat) tetap hidup dan tidak tergerus oleh gaya pembawa acara yang terlalu kasual.
Bagi masyarakat Pasuruan, sosok Tarmudji, S.Pd adalah bukti bahwa profesi Pranoto Adicoro adalah sebuah panggilan jiwa untuk merawat warisan leluhur.(Red)
