PASURUAN, (java66news.com) – Keberkahan ilmu seorang santri tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi kecerdasan akademisnya, melainkan dari sejauh mana ia menaruh hormat dan taat kepada kedua orang tua serta gurunya.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Arrahmah Al Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Abuya M. Hasan Syaibah, saat memberikan wejangan mendalam kepada media ini pada Sabtu (13/6/2026).
Menurut Abuya, seorang anak—terlebih yang berstatus sebagai santri—akan selalu dilingkupi masalah dan mengalami kebuntuan dalam hidupnya jika hubungan dengan orang tuanya bermasalah. Ketidakmampuan untuk taat dan mengambil hati orang tua demi mendapatkan rida mereka akan berdampak fatal pada masa depannya.
“Dipastikan kehormatan derajatnya tidak mengalami perubahan, akan menjadi orang biasa walau ilmunya selangit. Ketidaktaatannya akan menggerus semua ilmunya,” ungkap Abuya M. Hasan Syaibah menilik pesan moral dalam gambar image.png.
Beliau juga menambahkan bahwa santri yang durhaka atau tidak taat, lisannya tidak akan memiliki ‘ketajaman’ atau karisma untuk didengar, apalagi dalam hal menyampaikan nasihat kebaikan. Oleh karena itu, menghormati dan menaati orang tua serta guru adalah hal mutlak yang wajib hukumnya bagi setiap santri.
Ibarat Kendaraan yang Melesat Cepat
Sebaliknya, Abuya memberikan perumpamaan yang luar biasa bagi santri yang mutlak taat dan berbakti. Jika seorang santri begitu takzim kepada guru dan orang tuanya, maka perjalanan hidup dan pengangkatan derajatnya akan berjalan sangat cepat.
“Ibarat mobil atau sepeda motor, belum digas sudah meloncat duluan. Kehormatan dan derajatnya akan begitu cepat merangkak bahkan lari,” jelasnya.
Santri yang berbakti akan tumbuh menjadi anak yang penuh berkah, dimudahkan dalam menjalani segala urusan kehidupan, dan lisannya akan menjadi ‘berbisa’ dalam arti positif—setiap perkataannya akan didengar, diikuti, dan dipatuhi oleh orang lain, tidak tumpul bagai macan ompong.
Investasi Masa Depan dan Akhir yang Indah
Di akhir penjabarannya, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al Hasaniyyah ini mengajak para santri untuk terus mengasah ketajaman ilmu mereka lewat jalur pengabdian dan bakti kepada orang tua. Berbakti kepada orang tua disebut sebagai investasi masa depan agar kelak dianugerahi keturunan yang cerdas dan saleh.
“Asah ketajaman ilmumu dengan berbakti kepada orang tua, kelak kau dihadiahi anak yang cerdas dan saleh, hidup tanpa susah, serta mati dalam keadaan Husnul Khatimah,” tutur Abuya.
Beliau menutup wejangannya dengan sebuah pengingat yang menembus hati: “Sepandai apa pun seorang anak, tetap derajatnya berada di kaki guru dan orang tuanya.” (J66/Red)
