PASURUAN, (java66news.com) – Kehidupan duniawi dan jalinan kasih asmara sedahsyat apa pun pada akhirnya akan menemui batas pemisah berupa kematian. Refleksi spiritual mendalam ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Abuyya M. Hasan Syaibah, kepada redaksi *java66news.com* pada Kamis (4/6/2026).
Dalam pesan hikmahnya, Abuyya M. Hasan Syaibah mengambil keteladanan dari kisah cinta paling romantis sepanjang sejarah umat manusia, yakni antara Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah Al-Kubra.
> “Seberat apa cintamu, sekuat apa sayangmu, pasti kau akan dipisahkan,” tutur Abuyya membuka petuah bijaknya, Kamis (4/6/2026).
>
Beliau menggambarkan betapa sempurnanya cinta dua sejoli tersebut—sehidup semati, diridai Allah SWT, dan telah dipastikan tempatnya di surga. Namun secara takdir duniawi, makam keduanya kini terpisah sejauh jarak dua kota suci; Rasulullah SAW dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah, sementara Sayyidah Khadijah di Makkah Al-Mukarramah.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi setiap pasangan suami-istri yang hidup di dunia. Meski ada keinginan mendalam untuk bisa wafat bersama, kenyataan takdir sering kali berbeda karena setiap yang hidup pasti akan menemui ajalnya masing-masing.
**Tak Perlu Takut Mati, Takutlah Mati Tanpa Bekal**
Lebih lanjut, ulama kharismatik asal Bangil ini menekankan bahwa kematian itu sendiri bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan, sebab ketakutan tidak akan bisa menghalangi kedatangannya.
“Yang harus ditakuti adalah mati mendadak tanpa adanya bekal persiapan. Itulah yang sebenarnya menjadi ketakutan terbesar bagi setiap Muslim,” tegasnya.
Mengutip dawuh para ulama, Abuyya mengajak umat Islam untuk kembali sadar dan menyingsingkan lengan baju dalam memburu bekal akhirat. Menurutnya, melupakan kematian adalah sebuah kesesatan yang nyata.
**Manusia Bukan Burung: Ada Pertanggungjawaban Setelah Wafat**
Sebagai penutup petuahnya, Pengasuh Ponpes Arrahmah Al-Hasaniyyah ini mengingatkan esensi manusia sebagai anak cucu Nabi Adam AS. Berbeda dengan makhluk lain seperti burung, setiap jengkel langkah dan napas manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta atas amanah kehidupan yang telah diberikan.
“Jika gagal dalam audit amal, dipastikan ada konsekuensi hukum yang harus dijalani, yaitu dikarantina dulu di neraka, barulah…” pungkasnya, menyisakan ruang perenungan yang mendalam bagi siapa saja yang membaca.
Pesan spiritual dari Abuyya M. Hasan Syaibah ini diharapkan menjadi alarm pengingat bagi masyarakat, khususnya warga Pasuruan, untuk senantiasa menyeimbangkan urusan duniawi dengan persiapan bekal menuju kehidupan yang kekal abadi. (J66/Red)
