PASURUAN, (java66news.com) – Di tengah dinamika kehidupan sosial yang sering kali diwarnai konflik dan pergesekan, ajakan untuk tetap menebar kebaikan menjadi sangat krusial. Abuyya M. Hasan Syaibah, Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, menyampaikan tausiyah penting mengenai urgensi menjaga akhlak mulia melalui sikap memaafkan, sebuah kunci untuk meraih derajat istimewa di sisi Allah SWT.
Esensi Menahan Amarah dan Memaafkan
Abuyya M. Hasan Syaibah menekankan bahwa membalas perlakuan buruk dengan hal yang sama hanya akan menempatkan seseorang pada posisi yang tidak jauh berbeda dengan pelaku keburukan. Sebaliknya, konsistensi dalam kebaikan adalah jalan utama menuju derajat tinggi.
“Para ulama dan kekasih Allah SWT yang mendapatkan derajat istimewa adalah mereka yang mampu mempraktikkan Al-Kazhimiin al-Ghaizh (meredam amarah) dan Al-’Aafiina ‘an an-Naas (memaafkan orang lain),” ujar beliau dalam pesan dakwahnya.
Menurut Abuyya, menahan emosi agar tidak dikuasai hawa nafsu untuk membalas keburukan adalah ibadah yang sangat berat. Namun, justru karena beratnya itulah, amalan ini memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Allah SWT.
Meneladani Rasulullah SAW dan Mbah Hamid Pasuruan
Sebagai manifestasi dari akhlak tersebut, Abuyya merujuk pada keteladanan Rasulullah SAW yang tidak pernah membalas keburukan orang lain. Prinsip serupa juga menjadi ajaran utama Mbah Hamid Pasuruan. Beliau sering berpesan agar umat Islam tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat zalim atau buruk kepada kita.
“Beratnya tidak membalas keburukan itulah yang justru membuat Allah SWT rida. Jika rida Allah sudah didapat, maka cinta-Nya akan diberikan kepada hamba tersebut,” jelasnya.
Dampak Cinta Semesta
Abuyya menambahkan bahwa ketika seseorang telah dicintai oleh Allah SWT, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh semesta. Sosok Mbah Hamid Pasuruan menjadi bukti nyata; bagaimana masyarakat begitu masif mencintai beliau, yang merupakan cerminan bahwa beliau telah mendapatkan cinta dari Sang Pencipta karena keikhlasannya dalam meniti jalan kesabaran.
Melalui pesan ini, Abuyya M. Hasan Syaibah mengajak masyarakat untuk tidak lelah berbuat baik tanpa memandang bulu, menjadikan sifat pemaaf sebagai pondasi dalam bermasyarakat, serta berupaya memperbaiki orang lain melalui keteladanan akhlak, bukan dengan pembalasan yang serupa.(Red)
