LUMAJANG, (java66news.com) – Fenomena anomali cuaca ekstrem kembali menghantui warga di lereng Gunung Semeru. Meski secara kalender wilayah Jawa Timur telah memasuki musim kemarau, banjir luapan air yang membawa material sisa vulkanik justru merendam pemukiman warga di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jumat (15/5/2026).
Peristiwa mendadak ini dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah puncak Gunung Semeru, meskipun di area pemukiman warga kondisi cuaca terpantau cerah.
Tanggapan BPBD Lumajang
Menyikapi kejadian tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, AP., M.Si mengimbau agar masyarakat, khususnya yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS), meningkatkan kewaspadaan ekstra. Menurutnya, anomali cuaca saat ini membuat potensi bencana hidrometeorologi sulit diprediksi secara manual.
“Kondisi di puncak Semeru memang terpantau hujan sangat lebat. Meskipun di wilayah kota atau pemukiman bawah tampak cerah, warga di bantaran sungai harus tetap siaga karena debit air bisa meningkat sewaktu-waktu tanpa peringatan cuaca lokal,” ujar Patria Dwi Hastiadi dalam keterangannya.
Beliau menambahkan bahwa tim BPBD telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan kaji cepat dan membantu warga yang terdampak luapan air. “Personel kami sudah di lapangan untuk memantau aliran sungai dan memastikan keselamatan warga. Kami juga berkoordinasi dengan relawan di hulu untuk memberikan informasi dini jika ada peningkatan debit air susulan,” imbuhnya.
Kondisi di Lapangan
Hingga saat ini, banjir luapan tersebut telah menyebabkan genangan air dan endapan lumpur di sejumlah rumah warga. Tidak ada laporan korban jiwa, namun BPBD terus melakukan pendataan terkait kerugian materiil.
Warga diminta untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap potensi awan mendung di wilayah puncak yang bisa menjadi pertanda hujan lebat kembali turun di hulu Semeru.(Red)
