Adab di Atas Ilmu: Mengapa Menghormati Jauh Lebih Penting Daripada Dihormati?

Admin · 25 Apr 2026, 12:36 WIB · 63 dilihat · 2 menit baca
Bagikan:
Adab di Atas Ilmu: Mengapa Menghormati Jauh Lebih Penting Daripada Dihormati?

PASURUAN (java66news.com) – Dalam tatanan sosial dan spiritual, seringkali manusia terjebak pada keinginan untuk diakui dan dihormati. Namun, sebuah pesan mendalam datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil, Abuyya Hasan Syaibah, yang menekankan bahwa esensi sejati dari ajaran Nabi bukanlah tentang mengejar penghormatan, melainkan tentang bagaimana kita menghormati sesama.

 

Menghormati Adalah Kualitas Pribadi

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Java66News
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Menurut Abuyya Hasan Syaibah, menjadi sosok yang dihormati bukanlah sebuah kewajiban bagi diri kita, melainkan hak orang lain. Sebaliknya, menghormati orang lain adalah kewajiban bagi setiap individu yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

“Dihormati itu tidak wajib, yang wajib itu menghormati. Itulah ajaran Nabi. Jangan karena merasa terhormat, kita menyuruh orang untuk hormat kepada kita,” ungkap beliau.

Beliau menjelaskan bahwa urusan apakah orang lain menghormati kita atau tidak, itu adalah urusan mereka. Namun, kemampuan kita untuk menghormati orang lain adalah cerminan langsung dari kualitas pribadi masing-masing. Seseorang justru akan terlihat jauh lebih terhormat ketika ia memiliki jiwa yang rendah hati untuk menghormati sesama.

 

Ilmu Tanpa Adab Tak Akan Berkah

Dalam dunia pendidikan dan pesantren, ilmu pengetahuan memang dikejar setinggi langit. Namun, Abuyya mengingatkan bahwa ilmu yang luas tidak akan memberikan manfaat atau keberkahan jika tidak dibarengi dengan adab.

Adab dan akhlak adalah nomor satu. Tanpa itu, ilmu hanya akan menjadi tumpukan informasi tanpa ruh. Sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan Rasulullah SAW hingga mendapat gelar Habibullah (Kekasih Allah)—gelar prestisius yang bahkan tidak semua Nabi dan Rasul mendapatkannya—adalah buah dari keagungan akhlak dan adab beliau yang luar biasa.

 

Pesan Untuk Masyarakat: Jangan “Gila Hormat”

Menutup pesannya, Abuyya Hasan Syaibah memberikan peringatan keras agar kita tidak terjebak dalam penyakit hati “gila hormat”. Beliau menegaskan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang membungkuk di hadapannya, melainkan dari cara ia memperlakukan orang lain.

“Jangan gila hormat. Kehormatanmu tergantung pada cara menghormatimu pada orang lain,” pungkasnya.

Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama di era digital saat ini, bahwa menjaga etika, adab, dan rasa hormat kepada sesama adalah kunci utama untuk mendapatkan keberkahan hidup dan derajat yang mulia di sisi Tuhan maupun manusia.

Oleh: Abuyya Hasan Syaibah

(Pengasuh Pondok Pesantren Arrahmah Al-Hasaniyyah Bangil)

63 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Java66news

Lihat semua artikel →