KUALA LUMPUR — Para pemimpin negara-negara anggota ASEAN menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) luar biasa di Kuala Lumpur untuk membahas respons kolektif terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dinilai mengancam stabilitas dan kemakmuran kawasan Asia Tenggara.
KTT yang diprakarsai oleh Ketua ASEAN saat ini ini dihadiri oleh kepala negara atau pemerintahan dari seluruh 10 negara anggota, termasuk delegasi tingkat tinggi dari Indonesia yang dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri.
Isu Utama yang Dibahas
Sejumlah isu krusial mendominasi agenda pertemuan, antara lain situasi di Laut China Selatan, dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasokan energi, dan ancaman proteksionisme perdagangan yang semakin menguat di berbagai negara maju.
Para pemimpin ASEAN menegaskan kembali komitmen terhadap prinsip sentralitas ASEAN dan zona damai, bebas, dan netral (ZOPFAN) sebagai fondasi hubungan antarnegara di kawasan.
Deklarasi Bersama
KTT menghasilkan Deklarasi Kuala Lumpur yang berisi 15 poin komitmen bersama, termasuk penguatan mekanisme manajemen konflik, peningkatan kerja sama ekonomi intra-ASEAN, dan pembentukan dana ketahanan regional senilai 2 miliar dolar AS.
Indonesia mendorong percepatan realisasi Komunitas Ekonomi ASEAN 2030 sebagai langkah konkret untuk memperkuat daya tahan kawasan menghadapi guncangan eksternal.
